Pendidikan

Mengenal Lebih Dekat  Keberadaan  Biara Santo Yosef di Ende

Mahasiswa STIPAR Ende bersama Br Simpli.

GlobalFlores.com – Biara Santo Yosef yang terletak di Jalan Katedral No 5, Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Tengah,merupakan salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah penting bagi perkembangan Gereja Katolik di Pulau Flores juga menjadi sejarah penting bagi perkembangan Gereja Katolik di Indonesia dan juga sejarah bagi Bangsa Indonesia di Kabupaten Ende.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Br. Hanafi Yosef, SVD atau dikenal sebagai Bruder Simpli, pada 8 September 2026,  Biara Santo Yosef,  memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) di Ende.

Para misionaris SVD tidak hanya menjalankan pelayanan pastoral, tetapi juga terlibat dalam bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan kehidupan masyarakat.

     Biara Santo Yosef adalah sebuah kompleks rumah yang di dalamnya tinggal para biarawan Katolik yang terdiri dari imam, bruder, dan frater.

Biara santo yosef memiliki peran dalam kehidupan rohani dan pelayanan Umat Katolik di Kota Ende.

Sejarah perkembangan Biara Santo Yosef dimulai dengan masuknya misionaris SVD asal Belanda ke Indonesia. Pada tahun 1913, SVD masuk pertama kali di Lahurus, Atambua Timor. Pada tahun 1914, misionaris Jesuit atau SJ menyerahkan misi di Flores kepada SVD dan diterima oleh Pastor Piet Noyen SVD. Pusat misi ini dimulai di Ndona dan berlangsung sampai sekarang.

     Pada tahun 1925, misi di Ndona dibawah pimpinan Mgr. Verstralen SVD mulai mencari dan membeli tanah di Kota Ende untuk membangun gereja dan tempat pendidikan. Tanah untuk biara Santo Yosef yang sekarang dibeli. Di tempat ini dulu ada sekolah tangsi polisi.

Di atas tanah ini mulai dibangun gedung pertukangan dan percetakan. Bersamaan dengan itu belanda berkeinginan untuk mendirikan sekolah dan untuk itu memberi kepercayaan kepada SVD.

Maka tanah di Ndao di beli oleh SVD atas nama keuskupan untuk mendirikan sekolah yaitu HIS (Holllandsche Indische School) sekolah ini terus dikelola SVD dan baru diserahkan kepada para frater BHK pada tahun 1951.

Tercatat juga tokoh nasional asal Maumere,Flores, Frans Seda memulai pendidikan di sekolah ini.

Di Ndao juga direncanakan untuk pembangunan Gereja Katedral. Tetapi karena lahan dianggap sempit maka Gereja Katedral didirikan di dekat Biara Santo Yosef seperti yang terjadi pada saat ini.

Pada tahun 1928 mulai dibangun Biara Santo Yosef diatas bukit seperti sekarang ini. Bersamaan dengan itu gedung Gereja Katedral juga mulai dibangun. Biara Santo Yosef selesai dibangun dan diberkati pada tanggal 19 Maret 1929 bertepatan dengan Pesta Santo Yosef.

     Setelah rumah tinggal selesai, mulailah dibangun rumah kayu untuk misi Stasi Ende yang berlantai dua yang disebut “Carolinum” masih ada sampai sekarang.

Di rumah kayu ini tinggal para pastor dan bruder untuk Stasi Ende. Gereja Katedral selesai dibangun dan diberkati oleh Mgr. Arnoldus Verstralen pada tanggal 7 Februari 1932. Pastor Paroki Katedral pater Gerardus Huitink SVD adalah pastor paroki yang pertama pada tahun 1927 sampai 1951.

     Bruder Simpli tinggal di Biara Santo Yosef  menuturkan  saat itu, tokoh pergerakan nasional Ir Soekarno juga kerap berkunjung ke Biara Santo Yosef. Karena itu pula maka selama berada dalam pengasingan di Ende pada tahun 1934 sampai 1938 Soekarno selalu berkunjung ke Biara Santo Yosef untuk meminjam atau  membaca buku dan melakukan persiapan pertunjukan tonilnya yang dibuat di bengkel Santo Yosef dan percetakan Arnoldus.

 Untuk mengenang kedekatan Soekarno sang Proklamator Kemerdekaan dengan Biara Santo Yosef atau SVD maka dibuatlah monumen yang disebut Serambi Soekarno dan diresmikan pada tanggal 14 Januari 2019.

      Tempat ini sudah mulai menjadi destinasi wisata Sejarah pergumulan Soekarno selama diasingkan di Ende dalam pertemuan di Mataloko.

Beberapa waktu lalu dalam pertemuan yang dihadiri perwakilan dari  Flores, Ambon dan Papua diputuskan bahwa rumah Biara Santo Yosef ditetapkan sebagai rumah bersejarah dan karena itu tidak boleh diubah kecuali diperbaiki tanpa mengubah bentuk.

Rumah Biara Santo Yosef yang menjadi tempat tinggal para imam, bruder, dan frater terdiri atas 4 gedung atau rumah Panjang yaitu:

  1. Rumah induk yang disebut sebagai Unit Santo Yosef, termasuk Kapela atau rumah ibadat yang dibangun pada tahun 1928.
  2. Rumah tinggak kayu yang disebut sebagai Unit Arnoldus Jansen yang dibangun pada tahun 1929.
  3. Rumah tinggkat dan bangunan terakhir yang disebut Unit Yosef Freinademezt yang selesai dibangun pada tahun 1993.
  4. Rumah tinggal Provinsial, pimpinan SVD yang disebut Unit Maria Imaculata yang dibangun pada tahun 1990.

Biara Santo Yosef juga menjadi tempat persinggahan banyak tamu seperti pastor, bruder, frater, dan suster baik yang tinggal dipulau flores maupun yang tinggal diwilayah lain seperti Indonesia bahkan di manca negara.

Selain itu ada banyak juga tamu yang datang untuk bertamu, berkunjung, atau berkonsultasi dengan para imam tentang masalah pribadi atau keluarga. Sebagai rumah biara paling tua di flores masih terasa oleh para tamu baik yang menginap maupun yang berkunjung. Karena itu diBiara ini disiapkan kamar-kamar untuk para tamu yang menginap dan kursi meja untuk tamu yang berkunjung.

Tidak bisa di sangkal karena usianya yang sudah tua baik gedung maupun perabot Biara Santo Yosef membutuhkan banyak biaya untuk perawatan atau pemugaran seperti pengecetan tembok, pengadaan kursi meja yang layak, perabot kamar yang pantas.

OLEH MAHASISWA SEKOLAH TINGGI PASTORAL ATMA REKSA ENDE

1. MARIA ANGELINA WAKU

2. GORETIANA TETE

3. VINSENSIA FERNANDEZ

4. MARIA LUDGARDIS JINI

5. MARSELUS KOLA BALU

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan