Opini

Merawat Pluralitas Dari Bumi Pancasila

Sebuah Perspektif Studi Antar Iman di Usia 36 Tahun STIPAR Ende, Laboratorium Bagi Kerukunan Umat Beragama

Oleh:Anselmus Dore Woho Atasoge, Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Tanggal 3 Oktober kembali mencatatkan tinta emas dalam lintasan sejarah Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (STIPAR) Ende. Institusi pendidikan tinggi pastoral ini genap merayakan ulang tahunnya yang ke-36. Sebuah perjalanan panjang yang sarat akan makna dan dedikasi.

Perayaan Dies Natalis kali ini mengusung tema reflektif sekaligus menantang nalar, yakni “Dari Komunitas STIPAR Kita Bertumbuh Menjadi Generasi Beriman.” Pilihan tema ini merupakan sebuah panggilan moral untuk mengevaluasi arah pendidikan pastoral di tengah arus zaman yang semakin kompleks.

Tema tersebut secara halus mengundang kita untuk merenungkan makna pendewasaan iman di tengah realitas masyarakat Flores yang majemuk. Dalam kacamata studi antariman, kedewasaan iman tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia membutuhkan gesekan, dialog, dan pertemuan dengan realitas sosial yang plural.

Oleh karena itu, perayaan 36 tahun STIPAR menjadi momentum yang tepat untuk menakar sejauh mana komunitas akademik ini berhasil mentransformasi diri dari wadah belajar menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya generasi beriman yang inklusif.

Komunitas STIPAR pada hakikatnya beroperasi sebagai sebuah ekosistem akademik yang hidup dan dinamis. Di dalamnya, para mahasiswa tidak hanya bergulat dengan dogma dan teks-teks suci, melainkan juga belajar seni memanusiakan manusia secara utuh. Dari perspektif studi antariman dapat dikatakan bahwa kedalaman spiritualitas seseorang justru diuji oleh kemampuannya berelasi secara autentik dengan ‘yang lain’.

Pertemuan dengan mereka yang berbeda latar belakang keyakinan memaksa mahasiswa untuk melampaui kenyamanan teologisnya dan membuka mata hati terhadap realitas pluralitas.

Generasi beriman yang didambakan dalam tema dies natalis ini pastilah generasi yang memiliki akar teologis kokoh, sekaligus sayap sosial yang membentang luas.

Mereka menolak untuk mengurung diri dalam menara gading eksklusivisme yang kaku. Sebaliknya, mereka turun langsung ke lapangan untuk merajut persaudaraan sejati.

Kemampuan untuk duduk bersama, berdialog, dan berbagi ruang dengan saudara-saudari sebangsa yang berbeda agama adalah indikator nyata bahwa iman mereka  bertransformasi menjadi ‘kasih yang membumi’.

Menjadi orang beriman yang sejati pada hakekatnya melampaui rutinitas ritual yang bersifat mekanistik. Iman menuntut kepekaan hati yang tajam untuk membaca tanda-tanda zaman di tengah tetangga yang berbeda keyakinan.

Ende, sebagai rumah sekaligus tapak bagi STIPAR, berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi kerukunan umat beragama.

Di bumi Pancasila yang damai, umat Katolik dan Muslim hidup berdampingan dalam harmoni yang indah, saling menghormati, dan saling menopang dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks sosiologis ini, STIPAR hadir untuk mencetak katekis dan pemimpin pastoral yang visioner. Mereka dididik untuk memahami bahwa merawat keberagaman adalah wujud nyata dari ketaatan kepada Sang Pencipta. Studi antariman mengajarkan bahwa pluralitas bukanlah sebuah kesalahan kosmik, melainkan ‘desain ilahi’.

Ketika para calon pemimpin di bidang keagamaan ini menyadari bahwa iman yang sejati akan selalu melahirkan kasih yang inklusif, maka mereka siap menjadi agen-agen perdamaian di tengah masyarakat.

Pertumbuhan menuju generasi beriman yang matang membutuhkan sebuah proses dialektis yang terus-menerus. Teologi, ilmu-ilmu kateketik-pastoral dan ilmu-ilmu humaniora yang dipelajari di ruang kelas harus berdialog secara kritis dan konstruktif dengan realitas sosial di lapangan.

Ketika seorang mahasiswa STIPAR berinteraksi intens dengan masyarakat lintas iman, imannya tidak akan menjadi luntur atau goyah. Sebaliknya, iman itu justru dimurnikan dari prasangka dan diperdalam melalui pemahaman yang komprehensif terhadap pengalaman spiritual orang lain.

Paradigma studi antariman mengajarkan kita bahwa perbedaan keyakinan adalah sebuah anugerah ilahi untuk saling mengenal, sama sekali bukan sebuah ancaman eksistensial. Pemahaman ini mengubah cara pandang mahasiswa dari yang semula curiga menjadi apresiatif.

Dengan landasan berpikir yang progresif ini, komunitas STIPAR bertransformasi menjadi inkubator yang subur bagi lahirnya pemimpin-pemimpin agama yang toleran, humanis, dan berpihak pada kemanusiaan.

Tiga puluh enam tahun adalah usia yang sangat matang bagi sebuah institusi pendidikan. STIPAR Ende telah membuktikan komitmennya yang tak tergoyahkan untuk terus menyemai benih-benih iman yang damai di tanah Flores.

Saya berharap agar perayaan Dies Natalis kali ini dapat dijadikan sebagai sebuah momentum reflektif untuk kembali melangkah dengan semangat baru. Perayaan ini harus menjadi titik tolak untuk mengevaluasi diri dan memperkuat tekad dalam mengemban misi pastoral di tengah masyarakat yang semakin majemuk.

Kita bertumbuh bersama, melampaui sekat-sekat primordial yang membatasi, dan menyongsong masa depan dengan penuh harapan. Generasi beriman yang lahir dari rahim STIPAR diharapkan mampu membawa terang, menjadi garam, dan membawa berkat bagi Nusa Tenggara Timur serta Indonesia secara keseluruhan.

Semoga STIPAR terus menjadi mercusuar yang menerangi jalan bagi terciptanya masyarakat yang beradab, rukun, dan penuh kasih.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan