Opini

DI BALIK JAS PUTIH, ADA PERJUANGAN YANG TIDAK PERNAH TERLIHAT

Oleh: Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA

*”Di balik setiap dokter, ada masa muda yang dikorbankan, ada keluarga yang berjuang, ada doa yang tidak pernah putus, dan ada hati yang memilih mengabdi kepada kemanusiaan. Maka hormatilah mereka, lindungilah mereka, karena ketika seorang dokter terluka, sesungguhnya kemanusiaan ikut terluka.” — Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA*

Saya bukan seorang dokter. Namun, saya adalah seorang ayah yang memiliki dua orang anak yang memilih jalan hidup sebagai dokter. Karena itu, saya mengetahui secara langsung bagaimana beratnya perjalanan mereka hingga akhirnya dapat mengenakan jas putih.

Ketika banyak orang melihat seorang dokter sedang melayani pasien, yang terlihat hanyalah seseorang yang telah berhasil. Namun, sangat sedikit yang mengetahui bahwa di balik jas putih itu terdapat bertahun-tahun pengorbanan, tangisan, tekanan mental, perjuangan keluarga, dan biaya pendidikan yang luar biasa besar.

Perjalanan menjadi dokter dimulai bahkan sebelum memasuki bangku kuliah. Untuk diterima di Fakultas Kedokteran, seorang anak harus bersaing dengan ribuan calon mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia. Hanya mereka yang memiliki kemampuan akademik tinggi, disiplin, dan ketekunan yang mampu lolos.

Namun, diterima di Fakultas Kedokteran bukanlah garis akhir. Justru di sanalah perjuangan sesungguhnya dimulai. Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak saya harus belajar hampir sepanjang hari. Waktu mereka bukan lagi diatur berdasarkan pagi, siang, dan malam, tetapi berdasarkan jadwal kuliah, praktikum, tutorial, diskusi kelompok, laboratorium, ujian, dan tugas yang datang tanpa henti.

Tidak jarang mereka belajar hingga pukul dua atau tiga dini hari, kemudian harus kembali mengikuti kuliah pada pagi harinya. Bahkan pada saat teman-teman seusianya sedang menikmati akhir pekan atau hari libur, mereka tetap berada di depan buku, laptop, atau di laboratorium.

Banyak orang mengatakan bahwa kuliah membutuhkan kerja keras. Tetapi pendidikan kedokteran menuntut sesuatu yang lebih.

Belajar selama 24 jam bukan sekadar ungkapan. Seorang mahasiswa kedokteran harus mampu mengatur waktunya dengan sangat disiplin. Mereka harus mengetahui kapan belajar, kapan beristirahat, kapan mengerjakan laporan, dan kapan mempersiapkan ujian berikutnya. Kesalahan mengatur waktu sedikit saja dapat berdampak besar terhadap hasil akademik mereka.

Beban materi yang dipelajari pun sangat luar biasa. Mereka harus memahami anatomi tubuh manusia, fisiologi, biokimia, farmakologi, patologi, mikrobiologi, parasitologi, ilmu penyakit dalam, bedah, kebidanan, anak, neurologi, psikiatri, anestesi, kedokteran komunitas, hingga berbagai ilmu klinis lainnya.

Yang dipelajari bukan hanya teori, tetapi juga harus mampu mengingat, memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan berdasarkan ilmu tersebut. Setiap mata kuliah memiliki target kelulusan yang tinggi. Apabila tidak mencapai nilai minimum, mahasiswa harus mengulang mata kuliah tersebut.

Mengulang bukan hanya berarti kehilangan waktu. Mengulang juga berarti harus membayar biaya pendidikan kembali, yang jumlahnya tidak sedikit. Setiap semester yang tertunda akan menambah biaya kuliah, biaya hidup, biaya praktikum, hingga biaya tempat tinggal.

Inilah sebabnya tidak semua orang mampu menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran. Bukan karena mereka tidak pintar, tetapi karena pendidikan dokter membutuhkan kombinasi yang sangat lengkap.

Harus ada kecerdasan. Harus ada kedisiplinan. Harus ada ketahanan mental. Harus ada dukungan keluarga. Dan tentu saja…Harus ada kemampuan ekonomi yang memadai.

Sebagai orang tua, kami tidak hanya membayar uang kuliah. Kami juga harus menyediakan tempat tinggal atau rumah kost yang layak agar anak dapat beristirahat dan belajar dengan baik. Kami harus memastikan kebutuhan makan, buku, alat kesehatan, laptop, internet, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi.

Di balik setiap dokter yang berhasil, ada orang tua yang mungkin menunda membeli kebutuhan pribadi, mengurangi pengeluaran keluarga, bahkan mengorbankan tabungan bertahun-tahun demi memastikan anaknya tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Saya percaya hampir semua orang tua dokter memiliki cerita pengorbanannya masing-masing. Setelah pendidikan akademik selesai, perjalanan belum berakhir. Mereka masih harus menjalani Program Pendidikan Profesi Dokter (Koas) selama sekitar 1,5 tahun.

Pada masa ini mereka berpindah dari satu stase ke stase lainnya, mulai dari Penyakit Dalam, Bedah, Anak, Obstetri dan Ginekologi, Saraf, Jiwa, Mata, THT, Kulit, Radiologi, Anastesi, hingga berbagai stase lainnya.

Mereka juga harus berpindah dari rumah sakit utama ke rumah sakit jejaring untuk memenuhi seluruh kompetensi yang dipersyaratkan.

Di sinilah mereka mulai benar-benar belajar menghadapi pasien secara langsung. Mereka mengikuti visite dokter spesialis sejak dini hari, berjaga malam, membantu tindakan medis, menyusun laporan kasus, mempresentasikan pasien, serta tetap belajar menghadapi ujian pada setiap akhir stase.

Tekanan fisik dan mental pada masa koas sangat besar. Mereka dituntut untuk disiplin, cepat belajar, mampu bekerja sama dalam tim, menghormati pembimbing, berkomunikasi dengan pasien, keluarga pasien, perawat, tenaga kesehatan lainnya, serta menjaga etika profesi setiap saat.

Setelah menyelesaikan seluruh tahapan koas, perjuangan itu masih belum selesai. Mereka masih harus mengikuti Program Internsip Dokter Indonesia selama satu tahun, yang umumnya terdiri dari sekitar enam bulan bertugas di rumah sakit dan enam bulan di puskesmas.

Program ini bertujuan membentuk dokter yang mampu bekerja secara profesional dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia. Pada masa internsip, mereka belajar bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dokter senior, tenaga kesehatan lain, manajemen rumah sakit, pemerintah daerah, hingga masyarakat.

Di sinilah karakter seorang dokter benar-benar ditempa. Disiplin, tanggung jawab, komunikasi, kerja sama, empati, dan kemampuan mengambil keputusan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari profesi ini.

Sebagai orang tua, tentu kami sangat bangga melihat anak-anak kami akhirnya mengenakan jas putih. Namun, kebanggaan itu selalu disertai dengan rasa khawatir. Kami memahami tekanan yang mereka hadapi. Kami menjaga agar semangat mereka tidak padam ketika mereka merasa lelah.

Kami menguatkan mereka ketika menghadapi kegagalan. Kami mengingatkan mereka bahwa setiap pengorbanan akan memiliki makna bagi kehidupan banyak orang. Saya juga memahami bahwa setelah menjadi dokter pun, tantangan belum berhenti.

Masih banyak dokter muda yang harus berjuang memperoleh kesempatan kerja yang layak, membangun pengalaman, melanjutkan pendidikan spesialis, atau bekerja di daerah dengan berbagai keterbatasan. Penghasilan pada awal karier sering kali belum sebanding dengan panjangnya proses pendidikan dan besarnya biaya yang telah dikeluarkan keluarga selama bertahun-tahun.

Karena itu, saya berharap masyarakat dapat melihat profesi dokter dari sudut pandang yang lebih utuh. Ketika kita bertemu seorang dokter, sesungguhnya kita sedang bertemu dengan seseorang yang telah mengorbankan masa mudanya untuk belajar.

Kita sedang bertemu dengan seorang anak yang pernah menangis karena ujian. Kita sedang bertemu dengan seorang mahasiswa yang pernah berjaga semalaman demi pasien. Kita sedang bertemu dengan keluarga yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit agar anaknya dapat mengabdi kepada bangsa.

Dokter bukan manusia yang sempurna. Mereka tetap manusia yang memiliki rasa lelah, sedih, takut, dan tekanan. Karena itu, marilah kita membangun budaya saling menghormati, saling mendukung, dan saling menjaga.

Pemerintah perlu terus meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran dan sistem pelayanan kesehatan. Institusi pendidikan perlu memastikan lingkungan belajar yang sehat dan aman. Rumah sakit perlu menciptakan budaya kerja yang mendukung kesejahteraan tenaga kesehatan. Masyarakat pun memiliki peran penting dengan menghargai profesi dokter sebagai mitra dalam menjaga kesehatan bersama.

Di balik jas putih ada seorang anak yang pernah bermimpi. Ada orang tua yang telah berkorban. Ada keluarga yang terus berdoa. Ada perjalanan panjang yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.

Semoga semakin banyak generasi muda Indonesia yang terpanggil menjadi dokter, dan semoga bangsa ini mampu menghadirkan lingkungan yang menghargai setiap pengorbanan mereka. Karena pada akhirnya, melindungi dokter bukan hanya melindungi satu profesi, tetapi juga menjaga masa depan pelayanan kesehatan Indonesia.

“Di balik jas putih ada perjuangan yang tidak terlihat. Maka di balik jas putih itu pula harus ada perlindungan, penghormatan, kepedulian, dan keadilan.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan