Religi

Murid-Murid Rela Meninggalkan Segalanya Untuk Menjadi Murid Yesus, Itu Bukan Sekadar Keputusan Praktis, Melainkan Tindakan Radikal Menunjukkan Pertobatan

Renungan Minggu 25 Januari 2026 Oleh, Fr Yohanes Berchmans,BHK

SALVE bagimu para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Setiap manusia siapapun dia adalah orang-orang yang berdosa yang memiliki kelemahan. Namun, Tuhan memberi ruang dan waktu, untuk kita bertobat. Pertanyaannya adalah apakah kita menggunakan ruang dan waktu yang diberikan untuk kita bertobat? Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa III.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 4: 12 – 23, yakni Yesus tampil di Galilea dan Yesus memanggil murid-murid yang pertama.

Dalam kisah Injil hari ini, kita mengimani bahwa Yesus datang ke dunia bukan sekadar untuk hadir, melainkan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Namun, keselamatan itu tidak otomatis kita terima tanpa respon. Kuncinya adalah bertobat. Seruan ini telah dimulai oleh Yohanes Pembaptis, sang perintis jalan Tuhan, dan ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat.”

Pertobatan berarti berbalik total dari jalan yang salah, dari ego dan ilah-ilah kecil yang mengikat kita, menuju terang Kerajaan Allah yang hadir dalam diri Kristus. Tanpa pertobatan, kita tetap berjalan dalam kegelapan, sekalipun Terang itu bersinar tepat di depan kita.

Namun, pertobatan sejati tidak berhenti pada kata-kata atau penyesalan. Ia menuntut suatu komitmen perubahan hidup. Murid-murid pertama Yesus menjadi teladan nyata. Ketika Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku,” mereka meninggalkan jala, perahu, bahkan keluarga mereka. Itu bukan sekadar keputusan praktis, melainkan tindakan radikal yang menunjukkan pertobatan mereka.

Mereka berbalik dari kehidupan lama menuju panggilan baru. Dan Yesus tidak hanya meminta mereka meninggalkan sesuatu, Ia memberi mereka identitas baru: “Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.” Dari profesi menjadi panggilan, dari mencari ikan menjadi mencari jiwa, dari bekerja demi nafkah menjadi melayani demi Kerajaan.

Dari pertobatan dan perubahan itu lahirlah buah. Buah yang nyata dalam kebaikan, KASIH, dan pengampunan. Perikop ini ditutup dengan gambaran Yesus yang berkeliling, mengajar, memberitakan Injil, dan menyembuhkan. Itulah buah kehadiran Kerajaan Allah: memulihkan pikiran dengan pengajaran, memulihkan HATI dengan Kabar Baik, dan memulihkan TUBUH dengan penyembuhan. Murid-murid yang mengikuti Yesus pun dimobilisasi untuk menghasilkan BUAH serupa menjadi penjala manusia yang aktif, membawa terang dan harapan bagi dunia. Urutannya jelas: Bertobat → Berubah → Berbuah. Kita tidak bisa menghasilkan buah rohani yang manis jika tidak terlebih dahulu diubah oleh kuasa Kristus.

Dan kita tidak akan pernah diubah jika tidak berani mengambil keputusan radikal untuk bertobat, dengan meninggalkan dosa, dan kelemahan serta mengikuti Dia.

Ingatlah, hari ini, panggilan yang sama masih bergema untuk kita: “Bertobatlah. Ikutlah Aku.” Apakah kita akan tetap sibuk dengan “jala dan perahu” kita, ataukah kita berani meninggalkannya, berbalik, dan mengikuti Yesus serta SIAP untuk diubah, dan dipakai untuk menghasilkan BUAH yang kekal?

Pertanyaan refleksi

  1. Bertobat: Apa hal-hal dalam hidup saya yang masih perlu saya tinggalkan agar sungguh berbalik kepada Kristus?
  2. Berubah: Bagaimana saya membiarkan Yesus mengubah arah hidup saya dari sekadar rutinitas menjadi panggilan yang bermakna?
  3. Berbuah: Buah apa yang sudah tampak dari hidup saya dalam bentuk KASIH, kebaikan, dan pengampunan yang dapat menjadi kesaksian nyata tentang Kerajaan Allah?
    Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu,🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus

Engkau datang untuk menyelamatkan kami dari dosa. Tolonglah kami bertobat, diubah oleh kasih-Mu, dan berbuah dalam kebaikan, kasih, serta pengampunan. Amin.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan