Opini

IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI BENTENG PERSATUAN BANGSA DI ERA GLOBALISASI

OLEH:THERESIA NINU
MAHASISWI SEMESTER II STIPAS ST SIRILUS RUTENG

Identitas nasional merupakan jati diri suatu bangsa yang membedakannya dari bangsa lain. Bagi Indonesia, identitas nasional tidak hanya berupa simbol negara seperti bahasa Indonesia, bendera merah putih, dan lagu kebangsaan Indonesia raya, tetapi juga mencakup nilai budaya, semangat gotong royong, toleransi, dan rasa persatuan yang telah diwariskan sejak dahulu. Di tengah pekembangan zaman dan arus globalisasi yang semakin kuat, identitas nasional memiliki peran penting sebagai benteng untuk menjaga persatuan bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing yang dapat mengikis nilai-nilai kebangsaan. 
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman sangat besar. Terdapat ratusan suku, bahasa daerah, adat istiadat, dan agama yang hidup berdamping dalam suatu keberagaman tersebut menjadi kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama. Namun, keberagaman juga dapat menimbulkan konflik apabila masyarakat tidak memiliki rasa persatuan dan kesadaran terhadap identitas nasional. Oleh karena itu, identitas nasional berfungsi sebagai alat pemersatu masyarakat Indonesia agar tetap hidup rukun meskipun memiliki banyak perbedaaan. 
Hemat penulis, identitas nasional Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang cukup serius. Salah satu tantangan terbesar berasal dari pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Kemajuan internet dan media sosial membuat budaya asing sangat mudah masuk ke kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Banyak anak muda yang lebih mengenal budaya luar negeri dibandingkan budaya daerahnya sendiri. Misalnya, mereka lebih tertarik mengikuti tren luar negeri daripada mempelajari tarian tradisional, bahasa daerah, atau kesenian lokal. Jika kondisi ini terus terjadi, maka rasa cinta terhadap budaya nasional dapat semakin berkurang. 
Pendapat tersebut didukung oleh (Sukarwo, 2017) yang menjelaskan bahwa globalisasi dapat menyebabkan krisis budaya apabila masyarakat tidak mampu mempertahankan nilai budaya lokal. Masuknya budaya asing tanpa adanya penyaringan dapat membuat masyarakat kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat harus mampu bersikap selektif terhadap pengaruh luar agar budaya nasional tetap terjaga. 
Meskipun demikian, globalisasi tidak selalu memberikan dampak negatif, kemajuan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional. Saat ini banyak generasi muda yang menggunakan media sosial untuk mempromosikan makanan tradisional, pakaian adat, tarian daerah, dan budaya lokal lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa identitas nasional tetap dapat dipertahankan sekaligus berkembang mengikuti zaman. Dengan memanfaatkan teknolgoi secara bijak, masyarakat Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia bahwa budaya bangsa Indonesia memiliki nilai yang tinggi dan patut dibanggakan. 
Selain pengaruh globalisasi, pendidikan juga memiliki peran penting dalam memperkuat identitas nasional. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana pembentukkan karakter dan rasa nasionalisme. Melalui pendidikan pancasila, sejarah perjuangan bangsa, dan kegiatan budaya, siswa dapat memahami pentingnya menjaga persatuan dan menghargai keberagaman. Menurut (PROF. DR. KAELAN, 2010) dalam pendidikan Pancasia, identitas nasional merupakan ciri khas bangsa yang menjadi alat pemersatu masyarakat Indonesia yang beragam. Pernyataan tersebut menunjukkab bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai kebangsaan kepada generasi muda. 
Tidak hanya sekolah, keluarga juga memiliki peran besar dalam membentuk identitas nasional seseorang. Anak-anak yang sejak kecil diajarkan untuk mencintai budaya lokal, menghormati perbedaan, dan bangga menjadi bangsa Indonesia akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki rasa nasionalisme tinggi. Orang tua harus memberikan contoh yang baik, seperti menggunakan bahasa Indonesia yang benar, menghargai budaya daerah, dan mengenalkan sejarah bangsa kepada anak-anak mereka. 
Di sisi lain, identitas nasional juga berkaitan erat dengan sikap toleransi. Indonesia dapat tetap berdiri kokoh karena masyarakatnya mampu hidup berdamping meskipun berbeda suku, agama, dan budaya. Namun, saat ini banyak berita bohong dan provokasi di media sosial yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Oleh sebab itu, masyarakat harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Sikap saling menghormati dan menjaga persatuan harus terus ditanamkan agar Indonesia tetap menjadi bangsa yang kuat. 
Hal ini juga didukung oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menyatakan bahwa nilai-nilai Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga persatuan dan identitas bangsa Indonesia. Pancasila menjadi dasar utama dalam membangunn kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman. 
Pada akhirnya, identitas nasional bukan hanya sekadar simbol negara, tetapi merupakan nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mencintai budaya lokal, menghargai keberagaman, menggunakan produk dalam negeri, dan menjaga persatuan merupakan bentuk nyata dari rasa nasionalisme. Sebagai generasi penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab menjaga identitas nasional agar tidak hilang akibat pengaruh globalisasi. Dengan identitas nasional yang kuat, Indonesia akan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berbudaya, bersatu, dan bermartabat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan