Religi

Waspada  Terhadap Segala Ketamakan, Kejarlah Harta Surgawi Jangan Duniawi Semata

Renungan, Minggu (3/8/2025) oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

SALVE bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Sudahkah Anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan setelah Anda bangun dari tidur? Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XVIII.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 12: 13 – 21, yakni orang kaya yang bodoh. Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menegur orang yang meminta agar warisan dibagi dengan kata-kata yang menggugah: 

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung pada kekayaannya itu. 

Yang perlu diingat bahwa ketamakan nama lainnya ialah rakus, loba, dan serakah. Arti tamak atau rakus atau, loba atau serakah merupakan sifat batin yang mencerminkan keinginan berlebihan untuk memiliki atau menguasai sesuatu, baik berupa harta, kekuasaan, kenikmatan, maupun posisi, tanpa mempertimbangkan kebutuhan, keadilan, atau kepentingan orang lain.

Sikap ini ditandai oleh ketidakpuasan terus-menerus dan kecenderungan menimbun demi kepentingan pribadi, sering kali mengabaikan etika, empati, dan nilai spiritual. Jadi, ketamakan atau rakus atau loba atau serakah bukan sekadar soal jumlah harta, melainkan sikap hati yang tidak pernah puas.

Di zaman modern ini, bentuk-bentuk ketamakan atau rakus atau loba atau serakah bisa muncul dalam berbagai rupa, antara lain: mengejar materi demi gengsi: rumah mewah, mobil mahal, pakaian bermerek. Juga berupa: ketergantungan pada konsumsi digital: gadget atau HP terbaru, langganan berlebihan lewat belanja online, judi online, konten hedonistik.

Atau juga berupa: ambisi yang berlebihan, jabatan dan kekuasaan di dunia kerja atau pelayanan. Pun waktu dan perhatian, enggan memberi kepada keluarga atau sesama. Inilah bentuk-bentuk ketamakan, kerakusan, kelobaan dan keserakahan modern dewasa ini.

Maka, mari kita Menyeimbangkan antara menimbun Harta Duniawi dan Harta Surgawi.

Harta duniawi memang diperlukan untuk kehidupan di dunia fana ini, tetapi tidak kekal. Ketika kita meninggal, tidak ada satu pun yang ikut serta. Yang akan kita bawa hanyalah harta surgawi, yakni buah: KASIH, IMAN yang tulus, dan AMAL yang nyata.

Oleh karena itu, kejarlah harta surgawi dengan “keserakahan rohani atau spiritual”.Tamaklah dalam membaca firman dan memperdalam relasi dengan Tuhan. Juga rakuslah dalam melakukan perbuatan KASIH, BERBAGI, dan MELAYANI. Akhirnya, lobalah untuk senantiasa mengisi hidup dengan KEBAIKAN untuk memuliakan Tuhan 

PESAN: Jangan biarkan ketamakan, kerakusan dan kelobaan duniawi, merampas damai dan tujuan sejati kita.

Tetapi,  marilah kita menjadi “serakah” akan hal-hal yang Ilahi, bukan untuk menimbun, melainkan untuk membagikan berkat.

Sebab seperti perumpamaan orang kaya yang bodoh hari ini,  bahwa hidup bukan hanya soal harta , tetapi soal warisan rohani atau spiritual,  yang kita bawa menuju kekekalan hidup abadi. Semoga!!!

Pertanyaan Refleksi

Apa yang sesungguhnya menjadi pusat tujuan hidup kita masing-masing, apakah kekayaan duniawi atau kekayaan surgawi di hadapan Allah? 

Bagaimana tiap-tiap kita dapat mengembangkan sikap cukup dan rasa syukur agar terhindar dari jerat ketamakan, kerakusan, kelobaan dan keserakahan? 

Selamat berefleksi dan selamat berhari Minggu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan