Uniflor Ende Punya Guru Besar Ketua Umum Yapertif Berharap Bisa Jadi Motivasi Bagi Dosen Lainnya

ENDE,GlobalFlores.com – Universitas Flores (Uniflor) Ende kini mempunyai guru besar atas nama, Prof. H. Nasir Kotten, MPd, yang dikukuhkan pada, Selasa (31/3/2026) di Auditorium H.J Gadi Djou,Universitas Flores dalam sidang terbuka senat akademik oleh Kepala LLDIKTI Wilayah XV Provinsi NTT, Prof. Dr. Adrianus Amehak, ST., M.Eng, menyikapi hal tersebut Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) yang menaungi Uniflor, Dr Laurentius Gadi Djou,SE,Akt, menyatakan bahwa itu suatu kebanggan bagi Universitas Flores (Uniflor) Ende dan pihaknya berharap bisa menjadi motivasi bagi dosen lainnya untuk menjadi guru besar.
Pria yang disapa Lori dalam sambutannya mengatakan bahwa sebagai Ketua Yayasan, dirinya merasa bangga karena merupakan hal yang pertama Kali Uniflor mempunyai Guru Besar.
“Raihan Gelar Guru Besar oleh Prof. H. Nasir Koten, MPd, menjadi motivasi bagi semua Dosen Uniflor, untuk bisa menjadi guru besar selanjutnya,”kata Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr Laurentius Gadi Djou,SE,Akt.
Lori mengatakan bahwa Yayasan Yapertif memandang bahwa keberadaan guru besar di sebuah universitas merupakan aset akademik strategis yang memberikan manfaat besar, khususnya bagi mahasiswa. Guru besar bukan hanya simbol pencapaian tertinggi dalam dunia akademik, tetapi juga representasi dari kualitas keilmuan, integritas intelektual, dan kematangan akademik institusi pendidikan tinggi.
Sedangkan bagi mahasiswa, salah satu keuntungan utama berkuliah di universitas yang memiliki guru besar adalah akses terhadap pembelajaran berbasis keilmuan mutakhir.
Dikatakan guru besar umumnya aktif dalam riset, publikasi ilmiah bereputasi, serta pengembangan keilmuan yang berkelanjutan.
Hal ini memungkinkan mahasiswa memperoleh wawasan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga kontekstual, kritis, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, guru besar berperan penting dalam membentuk budaya akademik yang kuat. Kehadiran mereka mendorong atmosfer diskusi ilmiah, tradisi berpikir kritis, serta etika akademik yang tinggi.
Hal ini meningkatkan kualitas karya ilmiah mahasiswa serta membuka peluang kolaborasi riset dan jejaring akademik yang lebih luas, baik nasional maupun internasional,ujar Lori.
Lori mengatakan bahwa dari perspektif yayasan, keberadaan guru besar juga meningkatkan kepercayaan publik dan daya saing lulusan.
Mahasiswa yang menempuh pendidikan di lingkungan akademik yang kuat akan memiliki nilai tambah, baik dalam melanjutkan studi, memasuki dunia profesional, maupun berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Dengan demikian, yayasan meyakini bahwa universitas yang memiliki guru besar memberikan lingkungan belajar yang unggul dan berkelanjutan, yang secara langsung berdampak positif pada kualitas, karakter, dan masa depan mahasiswa,ujar Lori. (rom)



