Hati Kita Manusia Adalah Bait Allah
Renungan,Minggu (10/11/2025)
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Semoga saya menjumpai Anda dalam keadaan sehat, damai dan bahagia. Kita renungkan bersama, renungan hari ini yang terinspirasi dari Injil Yohanes 2: 13 – 22, yakni Yesus menyucikan Bait Allah.
Bait Allah bukan hanya sebatas bangunan fisik, tetapi diri Yesus juga adalah Bait Allah. Jika diri Yesus adalah Bait Allah, maka kita sebagai murid-Nya juga menjadikan HATI kita sebuah bangunan rohani atau spiritual, tempat Yesus bertahta.
Oleh karena itu, kita harus membersihkan dan merawat HATI kita. Pada hari Minggu ini, Gereja sejagat merayakan Pesta pemberkatan Gereja Basilik Lateran. Dan melalui bacaan Injil hari ini, kita disadarkan bahwa Bait Allah bukan hanya bangunan fisik.
Diri Yesus sendiri adalah Bait Allah yang hidup. Maka, sebagai murid-Nya, HATI kita pun dipanggil menjadi istana-Nya tempat kehadiran-Nya bersemayam. Rasul Paulus mengingatkan: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”
(1 Korintus 6:19). Maka, jika tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka HATI kita adalah ruang terdalam dari bait itu. Oleh karena itu, mari kita jaga HATI kita:
Pertama_:*Bersihkan dari kekotoran dosa dan niat jahat*. _Kedua_ *Jangan jadikan HATI tempat transaksi kejahatan atau kesombongan*. _Ketiga_ *Lembutkan dari kekerasan dan kekakuan*. _Keempat_ *Rawat agar tetap jernih, bersih, rendah hati, dan penuh KASIH*. Ingatlah: HATI kita adalah Bait Allah, dan tubuh kita pun adalah bait Roh Kudus.
Maka, menjaga hati dan tubuh adalah bentuk penghormatan kepada kehadiran Allah dalam diri kita. Dengan demikian, jangan biarkan HATI kita dicemari, agar Dia tidak meninggalkan istana-Nya dalam diri kita.
Akhirnya, semoga hari ini kita hidup dengan HATI yang layak bagi-Nya.
*Pertanyaan Refleksi:*
1. Apakah aku sudah memperlakukan HATIku sebagai tempat kediaman Allah dengan menjaga pikiran, perasaan, dan niatku agar tetap bersih dan tulus?
2. Adakah “transaksi” dalam HATIku, seperti ambisi, iri hati, cemburu, dengki, dendam, amarah, atau kepahitan yang perlu aku bersihkan agar tidak mengusir kehadiran Tuhan?
3. Bagaimana aku bisa melatih HATI yang lebih lembut, rendah hati, dan murah HATI dalam relasiku dengan sesama hari ini?
*Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu*🙏🙏


