Perjalanan Imamat RD Egidius Parera, Berawal Dari Bermain-Main Sebagai Pastor Akhirnya Jadi Pastor Benaran

Perjalanan hidup manusia tidak pernah yang tahu akan akhirnya terkadang apa yang direncanakan tidak sesuai dengan harapan namun terkadang juga apa yang diharapkan bisa juga terwujud.
Dari sekian orang yang perjalanan hidupnya sesuai dengan harapan salah satunya adalah RD Egidius Parera.
Sedari kecil dirinya memang bercita-cita menjadi seorang pastor.
Dan untuk mewujudkan cita-citanya tersebut Egi kecil kerap bermain menjadi seorang pastor bergantian dengan kakaknya yang saat itu juga sedang menempuh pendidikan di seminari.
Saat bermain menjadi pastor tersebut Egi kecil dan kakaknya kerap berganti peran.
“Iya kadang saya yang berperan menjadi pastor dan kadang kakak saya yang berperan menjadi pastor,”kata RD Egi Parera saat ditemui di Rumah Pastoran Paroki Mautapaga, Ende, Jumat (6/6/2025).
Saat berperan menjadi pastor, Egi kecil dan kakanya menjadikan pisang sebagai hosti.
“Iya kami memotong pisang masak dibuat ukurannya seperti seukuran hosti dan lantas kami membagikan hosti pisang secara bergantian dengan kakak saya layaknya seorang pastor,”kata Rd Egi.
Egi Parera yang saat kecil bermain sebagai pastor dengan kakaknya akhirnya menjadi seorang pastor benaran dan bahkan telah menapaki dirinya sebagai seorang pastor selama 40 tahun yang akan dirayakan oleh Umat Paroki St Yosef Freidementz Mautapaga.
Perjalanan 40 tahun sebagai seorang imam bukanlah perjalanan yang mudah karena tidak semua bisa melaluinya namun RD Egi Parera berhasil melalui meskipun penuh tantangan dan juga suka cita.
RD Egi Parera dilahirkan pada, 13 Mei 1953 dari pasangan, Bapak Yohanes Alfonsus Parera, seorang pandai emas dan Mama, Maria Emilia Pareira, seorang ibu rumah tangga.
Mereka terdiri dari 10 bersaudara masing-masing 2 orang putri dan 8 putra.
“2 sebelum saya putra dan putri meninggalkan kami sewaktu masih kecil dari 8 bersaudara, sampai saat ini tinggal kami berdua saya anak ke 7 dan bungsu Puji Tuhan, Bapak yang mahabaik. Kami 8 bersaudara hidup dalam keadaan baik-baik saja dan rukun bersaudara, rohani dan jasmani,”kata Rd Egi Parera.
“Kakak saya, anak yang ke 3 masuk seminari tetapi jebol hanya sampai kelas 5 di Mataloko. Adik bungsu hanya sampai foto berjubah lalu tinggalkan Ritapiret,”katanya.
Soal panggilannya menjadi seorang imam, Egi Parera mengawalinya setapak demi setapak yang diawali ketika menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) dirinya masuk ke Semenari Lela.
“Oleh tuntunan Pater Rikard Nieuwendijk SVD dan Pater Fritz Braun SVD, saya ikut terpilih masuk Seminari Lela bersama saudara saya Paulus Paskalis Baba,”katanya.
Bersama 53 teman dari berbagai SR sewilayah Maumere dan Ende, saya terhitung sebagai siswa SMP Seminari Lela angkatan pertama.
Kami mengalami indahnya menjadi siswa angkatan pertama dengan suka dan dukanya dengan sedih dan senangnya. Ratakan bukit, cungkil pohon, termasuk kelapa, cungkil dari akarnya,ujar dia.
Dibawah Praeses pertama: Romo Bosco Terwinyu alm dan Frater Yan Jangun sera Frater Maksimus Sintu.
Setelah menjalani serangkain kisah kehidupan di seminari mulai dari semenari menangah hingga tinggi, RD Egi Perera akhirnya benar-benar menjadi seorang Pelayan Kristus bersama 5 orang temannya dari angkatan yang sama, masing-masing, Rm Paulus Paskalis Baba dan Rm Florentinus Goleng serta Rm Adrianus Adenong Alm.
Saat menjadi seorang imam, RD Egi Parera telah menjalani berbagai tugas pelayanan baik sebagai pastor paroki maupun pastor rekan bahkan pernah menjadi guru.
Cita-cita Egi Parera mendapatkan jawaban dari Tuhan ketika dirinya ditahbiskan menjadi seorang imam pada 12 Juni 1985 melalui urapan tangan, Mgr Pablo Puente Duta Besar Vatikan untuk Indonesia saat itu.
Setelah secara resmi menjadi seorang imam, RD Egi Perara mengawali karya pelayanan di Paroki Katedral, Ende.
“Sesuai maklumat hari Pentahbisan maka penempatan tugas saya di Paroki Katedral Ende. Tetapi hanya semacam berbulan madu Imamat, 1 bulan di Katedral lalu dipindahkan ke Paroki Hati Amat Kudus Wolowaru,”katanya.
Selama menjalani tugas sebagai imam,RD Egi Parera telah bertugas di Paroki Katedral dan Wolowaru,Detusoko dan Roworeke dan Paroki Komandaru serta kini di Paroki Santo Yosef Fridementz Mautapaga,Ende.
RD Egi Parera juga pernah melayani umat di Paroki Duri,Keuskupan Padang.
Kenapa Dipanggil Opung
Saat ini RD Egi Parera kerap juga disapa Opung dan hal itu tentu tidak semua orang atau umat tahu kenapa, RD Egi Perera saat ini kerap dipanggil Opung.
Dalam penuturannya kepada media semuanya itu berawal pada saat dirinya pulang dari masa pelayanan di Paroki Duri, Keuskupan Padang, Provinsi Riau dan bertugas di Paroki Detusoko.
Saat di Paroki Detusoko tersebut, RD Egi Perara mulai dipanggil Opung oleh anak-anak asrama yang berada di dekat paroki.
“Ketika dipanggil Opung ada suster yang tanya kepada anak-anak asrama siapa yang kamu panggil Opung itu, lalu anak asrama bilang itu panggilan untuk saya. Dan suster saat itu marah, jangan panggil Opung, itu tidak sopan. Saya bilang kepada suster tidak apa. Itu panggilan khas Orang Batak untuk menyebut seorang kakek. Opung itu dalam bahasa Batak artinya kakek,”katanya.
Dan berawal dari Detusoko itulah hingga kini orang maupun umat mulai akrab memanggil saya dengan panggilan Opung,ujar RD Egi.


Siapa yang pernah menyangka hanya Tuhan lah yang tahu bahwa sedari kecil bermain Egi Parera yang hanya bermain sebagai pastor akhirnya menjadi seorang pastor benaran dan kini telah menapiki usia yang ke-40 dalam perjalanan imamatnya atau Panca Windu yang akan dirayakan di Paroki Mautapaga,Ende,pada 15 Juni 2025.
“Berkeliling sambil berbuat baik. Beruban dalam kebaikan berarti membiarkan waktu memperhalus watak, memperdalam belas kasih, dan memperluas pengertian,”kata Opung memaknai perjalanan imamatnya yang ke-40.
Akhirnya, ketika dan pada usia menua dan kekuatan menurun, yang tersisa bukan harta atau nama besar, melainkan damai yang tenang di hati,ujarnya.
Selamat Pesta Panca Windu, Opung.

