Regional

808 Ekor Babi  Mati Apakah Ende Darurat ASF, Simak Penjelasan Distan

ENDE,GlobalFlores.com-Meskipun telah terjadi kasus kematian pada 808 ekor babi di Kabupaten Ende namun sejauh ini Kabupaten Ende belum masuk dalam kategori darurat penyakit ASF.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Gadir Dean mengatakan hal itu kepada GlobalFlores.com di Ende,Rabu (5/32025) ketika dikonfirmasi terkait kasus kematian ternak babi di Kabupaten Ende.

Gadir Dean mengatakan bahwa kasus kematian sebanyak 808 ekor babi memang terlihat cukup banyak namun demikian belum bisa dikatakan bahwa Kabupaten Ende masuk darurat ASF.

Populasi babi di Kabupaten Ende sangatlah banyak mencapai puluhan ribu ekor jadi dengan adanya kasus kematian sebanyak 808 ekor babi itu sebenarnya kecil jadi dengan demikian Kabupaten Ende belum dalam kondisi darurat ASF,ujar Gadir Dean.

Namun demikian menyusul kasus kematian terhadap 808 ekor babi itu ujar Gadir pihaknya telah mengambil langkah-langkah penanggulangan.

Dikatakanya sehubungan dengan telah terjadinya kasus kematian babi dalam jumlah yang signifikan di beberapa kecamatan pada sebulan terakhir ini maka pada Rabu 13 Februari 2025 telah dilakukan rapat koordinasi Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dipimpin langsung oleh dirinya selaku Plt  Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende.

Plt Kadis Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende,Gadir Dean bersama staf melakukan penyemprotan kandang babi milik warga.

Berdasarkan laporan pengamatan petugas Puskeswan se-Kabupaten Ende bahwa telah terjadi kasus penyakit dan kematian ternak babi dalam jumlah besar sebanyak kurang lebih 808 ekor di beberapa Kecamatan yakni Kecamatan Detusoko, Ndona, Maukaro, Wewaria, Maurole, Ende Tengah, sedangkan kecamatan lain relatif aman dan dalam pantauan petugas.

Penyebab kematian ini masih dalam proses investigasi Dinas dengan tindak lanjut pengambilan sampel darah dan organ dan selanjutnya akan dikirim ke laboratorium veteriner rujukan.

Dari tanda klinis yang teramati pada hewan sakit antara lain penurunan nafsu makan, demam tinggi, tidak bereaksi terhadap tindakan pengobatan, kematian dalam jumah tinggi, sehingga diduga ancaman virus Hog cholera atau virus ASF (Demam Babi Afrika).

Berdasarkan hasil uji spesimen yang dikirim ke Laboratorium Balai Besar Veteriner Denpasar maka kasus kematian babi tersebut dikarenakan terinfeksi penyakit Demam Babi Afrika atau ASF

Gadir mengatakana adapun langkah-langkah pengendalian dan pencegahan penyakit demam babi Afrika yakni:

1. Melakukan desinfeksi massal pada area tertular

2. Memberikan edukasi dan sosilisasi kepada masyarakat untuk melakukan biosekuriti standar.

3. Tidak memberi makan babi dengan sisa dapur dan limbah rumah tangga yang mengandung unsur babi. Apabila memberi pakan lokal maka makanan tersebut wajib dimasak kurang lebih 1 jam dan tidak boleh mengandung unsur babi 4. Menjaga kebersihan kandang, peralatan kandang dan rutin membersihkan kandang dengan desinfektan

5. Membatasi dan menutupi akses masuk orang, barang dan hewan ke kandang

6.Menggunakan alas kaki khusus atau sepatu boot, pakaian khusus hanya untuk ke kandang

7.Menguburkan bangkai ternak babi yang mati, tidak dibuang

8. Memberi pakan berkualitas dan memberi suplemen

9. Tidak membeli babi ataupun daging babi dari sumber atau tempat yang belum diketahui status kesehatannya

10 Melakukan pengamanan wilayah dengan melakukan pelarangan sementara lalu lintas babi dan daging babi dan olahannya ke dalam wilayah Kabupaten Ende ataupun antar kecamatan sampai tidak terjadi lagi kasus kematian babi.

Babi ataupun produk babi yang akan dilalulintaskan harus memiliki ijin dan menunjukan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH),ujar Gadir.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan