Kotbah Saat Sholat Id di Ende, Guru Besar Filsafat Dakwah dan Pendidikan UIN Alauddin Makassar Katakan Idul Fitri Bukan Sekadar Acara Tahunan

ENDE,GlobalFlores.com – Saat membawakan kotbah pada Sholat Id 1447 H, Sabtu (21/3/2026) di Lapangan Pancasila, Kota Ende, Guru Besar Filsafat Dakwah dan Pendidikan UIN Alauddin Makassar yang juga Ketua Harian bidang hubungan luar negeri MUI Provinsi Sulawesi Selatan, Haji Mustari Mustafa, mengatakan bahwa Idul Fitri ini bukan sekadar acara tahunan namun merupakan undangan cinta dari Allah agar manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan pulang kepada Dia (Allah-red) yang menciptakan manusia.
“Mari sejenak kita hadirkan rasa itu. Allah tidak menuntut kesempurnaan kita. Allah menunggu kejujuran hati kita. Mari kita bisikkan sama-sama dalam hati ikhlas,”katanya.

“Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari saling membunuh atau bunuh diri, sebab Allah mengasihi mereka. Salah satu dari rahmat-Nya adalah dengan melindungi darah dan harta mereka dan melarang untuk ditumpahkan, serta tidak membebani mereka dengan bunuh diri”. (QS. An-Nisa: 29).
“Ayat ini bukan hanya larangan. Ayat ini adalah pesan: Allah sayang kepada kita. Maka saudara-saudaraku. Depresi itu nyata,”ujarnya.
Dan orang yang sedang depresi tidak selalu terlihat lemah. Kadang la tersenyum. Kadang la diam. Kadang la tampak biasa. Tapi di dalamnya ia berperang sendirian,ungkap Haji Mustari Mustafa.
Haji Mustari mengatakan bahwa di tengah hiruk-pikuk berita dunia saat ini yang dipenuhi kabar tentang kecemasan dunia akan meletusnya Perang Dunia ke-3, di saat manusia takut akan ledakan bom yang menghancurkan berbagai kawasan dunia.
“Mari kita tundukkan kepala dan bertanya pada nurani kita. Apalah artinya kita mengkhawatirkan perdamaian global, jika kita sendiri abai pada ‘perang besar’ yang sedang berkecamuk di dalam dada orang-orang di samping kita,”katanya.
“Sebelum bom-bom perang meledak, sering kali bom ketidakpedulian telah lebih dulu meluluhlantakkan harapan jiwa-jiwa yang rapuh di sekitar kita,”ujarnya.
Tragedi bocah SD di Ngada-NTT yang kita dengar adalah bukti nyata bahwa ada jiwa yang gugur dalam kesunyian karena tidak ada tangan yang merangkulnya,ujar Haji Mustari.
Musuh kemanusiaan yang paling nyata hari Ini bukanlah sekadar persenjataan canggih, melainkan hilangnya rasa peduli. Ingatlah, Islam datang untuk satu tujuan besar: menjaga kehidupan (hifzhun nafs). Allah melarang kita membunuh jiwa, bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan membiarkan keputusasaan menelan mereka dalam kesunyian tanpa ada yang menyapa,ujar Haji Mustari. (rom)


