SMPK Frateran Maumere Gelar Work Shop Peningkatan Kompetensi Guru Hadirkan Rektor Unika Widya Karya Malang, Fr Monfort

MAUMERE,GlobalFlores.com-SMPK Frateran Maumere, Kabupaten Sikka, menggelar kegiatan work shop peningkatan kompetensi guru dengan menghadirkan pembicara tunggal, Rektor Unika Widya Karya Malang, Fr, Klemens Mere, SE,MPd,MM,MH,MAP,M.AK,MP atau yang akrab disapa Frater Monfort, Senin (15/12/2025) hingga Selasa (16/12/2025).
Dalam materinya yang diberi tema, Optimalisasi Praktik Pembelajaran di SMPK Frater Maumere melalui Bimbingan Teknis Kurikulum Nasional dan Penerapan Deep Learning, Frater Monfort mengatakan bahwa perkembangan dunia pendidikan di Indonesia terus bergerak dinamis mengikuti perubahan global yang sangat cepat, terutama sejak masuknya era transformasi digital dan tuntutan kompetensi abad ke-21. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah mengembangkan Kurikulum Nasional yang berorientasi pada kompetensi dan karakter, dengan menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta mendorong berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) (Kemdikbudristek, 2022).
Dikatakan kurikulum ini dirancang untuk membantu guru meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas melalui diferensiasi pembelajaran, asesmen formatif yang berkesinambungan, serta integrasi konteks kehidupan nyata ke dalam materi ajar. Namun demikian, implementasi Kurikulum Nasional tidak dapat berjalan efektif tanpa kemampuan dan kesiapan guru dalam menerapkannya secara utuh.
SMPK Frater Maumere sebagai salah satu institusi pendidikan yang berkomitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan turut menghadapi tantangan tersebut. Berdasarkan observasi awal dan diskusi dengan pihak sekolah, ditemukan bahwa sebagian besar guru masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar Kurikulum Nasional, khususnya terkait penyusunan tujuan pembelajaran, merancang modul ajar, menentukan capaian pembelajaran, serta menerapkan asesmen diagnostik maupun formatif.
“Tantangan ini semakin terlihat ketika guru harus menyesuaikan perencanaan pembelajaran dengan kebutuhan belajar peserta didik yang semakin beragam. Guru diharapkan tidak hanya memahami isi kurikulum, tetapi juga mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan bermakna (Sani, 2020). Namun kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan tersebut belum sepenuhnya berkembang secara optimal,”katanya.
Salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian adalah kecenderungan guru untuk kembali menggunakan model pembelajaran tradisional, terutama metode ceramah yang berpusat pada guru. Hal ini berdampak pada kurangnya interaksi aktif antara guru dan peserta didik serta minimnya kegiatan pembelajaran yang menstimulasi kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran konvensional tidak lagi mampu menjawab tuntutan pendidikan modern yang menekankan pengembangan kompetensi lintas disiplin dan keterampilan abad ke-21 (OECD, 2020).
Dengan demikian, diperlukan sebuah pendekatan pembelajaran baru yang mampu mengarahkan peserta didik memahami konsep secara mendalam dan mengaplikasikannya dalam konteks kehidupan nyata.
Salah satu pendekatan yang relevan dengan kebutuhan tersebut adalah pendekatan Deep Learning. Deep Learning dalam konteks pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi canggih, tetapi lebih pada proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk memahami konsep secara mendalam, melakukan refleksi, mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, serta mengembangkan kemampuan analitis dan kreatif (Biggs & Tang, 2011).
Pendekatan ini menekankan bahwa pembelajaran bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses konstruktif yang mengarah pada pemaknaan materi secara komprehensif. Deep Learning diyakini mampu meningkatkan kualitas pemikiran peserta didik, membantu mereka membangun koneksi antarmateri pelajaran, serta menjadikan pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
Namun, berdasarkan hasil wawancara informal dengan beberapa guru SMPK Frater Maumere, diketahui bahwa pemahaman guru mengenai konsep Deep Learning masih relatif rendah.
Guru belum memiliki pengetahuan atau keterampilan yang cukup untuk menerapkan pendekatan ini dalam pembelajaran. Sebagian besar guru merasa kesulitan dalam merancang aktivitas pembelajaran yang mampu memfasilitasi eksplorasi, refleksi, kolaborasi, dan pemecahan masalah oleh siswa.
Selain itu, pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran sebagai pendukung Deep Learning juga belum maksimal digunakan. Keterbatasan literasi digital dan keterampilan pedagogis berbasis teknologi menjadi salah satu faktor penghambat (OECD, 2019).
Di sisi lain, fasilitas sekolah seperti perangkat digital, koneksi internet, dan media pembelajaran sebenarnya sudah tersedia meskipun dengan kapasitas terbatas. Namun, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembelajaran inovatif. Guru masih membutuhkan bimbingan teknis agar mampu mengintegrasikan perangkat digital dalam proses pembelajaran secara efektif. Kesenjangan antara ketersediaan fasilitas dan kemampuan guru dalam menggunakannya mengakibatkan pembelajaran kurang mampu menjawab tantangan zaman yang menuntut digital literacy, critical thinking, dan problem-solving.
Permasalahan lainnya adalah belum adanya pelatihan atau program pendampingan yang berkelanjutan bagi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Nasional secara komprehensif. Pelatihan yang pernah dilakukan bersifat umum, sporadis, dan belum menyentuh kebutuhan spesifik guru di SMPK Frater Maumere. Kondisi ini mengakibatkan guru tidak memiliki pendampingan yang cukup dalam menerjemahkan kebijakan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran yang nyata. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa pelatihan guru yang sistematis dan berkelanjutan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kurikulum serta memberikan dampak signifikan pada peningkatan hasil belajar peserta didik (Darling-Hammond et al., 2017).
Berdasarkan analisis situasi tersebut, diperlukan suatu program pengabdian kepada masyarakat berupa Bimbingan Teknis (Bimtek) yang tidak hanya memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga pendampingan praktis terkait implementasi Kurikulum Nasional dan penerapan Deep Learning dalam pembelajaran.
Bimtek ini diharapkan mampu membantu guru dalam mengembangkan perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, merancang aktivitas pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna, serta mengembangkan strategi asesmen yang mendukung proses belajar mendalam. Dengan adanya Bimtek, guru akan memperoleh pengalaman langsung dalam mempraktikkan pendekatan pembelajaran yang lebih efektif dan relevan,ujar Frater Monfort.
Selain itu, kegiatan Bimtek juga diharapkan dapat memperkuat kapasitas sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan. Guru yang telah mengikuti pelatihan dapat menjadi agen perubahan dalam lingkungan sekolah, membagikan pengetahuan kepada rekan sejawat, serta mengembangkan komunitas belajar profesional (Professional Learning Community/PLC). Dengan demikian, dampak program tidak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga kolektif bagi kualitas pendidikan di SMPK Frater Maumere.
Melalui kegiatan pengabdian ini, diharapkan terjadi transformasi pembelajaran yang lebih modern, adaptif, dan berbasis pada kebutuhan peserta didik. Guru mampu memanfaatkan kurikulum sebagai pedoman yang fleksibel dan berorientasi pada pengembangan kompetensi, serta mengintegrasikan pendekatan Deep Learning untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berdampak jangka panjang.
“Pada akhirnya, program ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Sikka dan mendukung tujuan pembangunan pendidikan nasional dalam mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global,”kata Frater Monfort. (rom)



