Regional

Melihat Tradisi Reba di Desa Boloji, Kabupaten Ngada,NTT

Oleh:Valentina Yna Epa Making, Mahasiswi STIPAR Ende

BAJAWA,GlobalFlores.com – Sebagaimana umumnya masyarakat Kabupaten Ngada yang kerap menggelar pesta adat yang dikenal dengan Reba, Masyarakat di Desa Boloji, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, juga melakukan hal yang sama.
Reba, sebuah pesta adat tahunan yang sarat makna budaya dan spiritual.
Nikolaus Moka, salah satu tokoh adat Desa Boloji, menjelaskan bahwa Reba merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan dan leluhur atas kehidupan serta hasil panen yang melimpah.

“Reba adalah pesta adat untuk mengenang leluhur dan mempererat hubungan keluarga besar,” ujar pria yang disapa Niko.

Niko yang dikonfirmasi, Sabtu (22/11/2025) mengatakan bahwa pelaksanaan Reba di Desa Boloji biasanya dilakukan antara bulan Desember hingga Februari , tergantung kesepakatan para tua adat. “Tahun ini, perayaan dilaksanakan pada 1 hingga 3 Februari 2025 dan berlangsung selama tiga hari penuh,”katanya.

Niko mengatakan bahwa rangkaian kegiatan dimulai dengan “kepo”, yakni tahap persiapan bahan dan tempat, kemudian dilanjutkan dengan “sa’o meze”, yaitu pertemuan keluarga besar di rumah adat.

Selanjutnya, masyarakat melaksanakan “bhaga” dan “loka” sebagai simbol rasa syukur yang diiringi dengan doa, tarian, dan nyanyian adat,ujar Niko.

Niko menjelaskan seluruh warga turut terlibat dalam perayaan ini, baik yang tinggal di desa maupun di luar daerah. Anak-anak muda pun berperan aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari menari, memainkan musik tradisional, hingga mendokumentasikan jalannya acara.

“Reba bukan hanya milik orang tua, tapi milik semua generasi,” tambahnya.

Selain itu, dalam tradisi Reba juga terdapat berbagai simbol adat yang sarat makna. Misalnya, makanan khas seperti ubi, daging babi, dan tuak putih yang disajikan bukan hanya sebagai hidangan, tetapi sebagai simbol kehidupan, kesuburan, dan persaudaraan.

Tarian dan nyanyian adat menggambarkan rasa gembira serta penghormatan kepada arwah leluhur, yang diyakini masih menyertai kehidupan masyarakat hingga kini.

Setiap gerakan tarian, tabuhan gong, dan nyanyian dalam upacara Reba memiliki arti tertentu yang mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tradisi Reba tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarana pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Melalui keterlibatan langsung dalam setiap prosesi, para remaja belajar tentang rasa hormat, kebersamaan, dan pentingnya menjaga identitas budaya.

Niko menegaskan bahwa Reba mengajarkan masyarakat untuk selalu menghormati leluhur, menjaga persaudaraan, dan hidup dalam semangat kebersamaan.
Ia berharap agar tradisi ini terus dilestarikan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

“Kami berharap pemerintah dan sekolah-sekolah bisa membantu memperkenalkan Reba sebagai bagian dari pendidikan budaya,”katanya.
Melalui perayaan Reba, masyarakat Desa Boloji menunjukkan bahwa adat dan budaya masih memiliki tempat penting dalam kehidupan mereka.

“Tradisi ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan generasi kini dengan akar budaya yang mendalam. Reba menjadi cermin bagaimana masyarakat Ngada menafsirkan syukur, persaudaraan, dan keutuhan hidup dalam harmoni antara manusia, leluhur, dan alam semesta,”katanya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan