Dibalik Galian C Ende-Nuabosi: Warga Lokal Bertaruh Demi Nafkah, Jalan Rusak Jadi Harga Yang Dibayar

Oleh: Yulita Songo Wasa,Mahasiswa STIPAR Ende
Debu berterbangan setiap kali truk pengangkut material tambang melintas di jalur Ende-Nuabosi. Jalan aspal yang dulunya mulus kini penuh lubang dan retakan. Bagi pengguna jalan, ini adalah tantangan baru. Namun bagi warga di sekitar lokasi, galian C adalah sumber kehidupan yang sulit dilepaskan.
Dibalik hiruk pikuk aktivitas galian, terselip cerita warga yang bertaruh demi penghidupan.

Mereka menggantungkan nasib pada pasir, batu, dan tanah hasil tambang.
“Saya sudah bekerja di galian ini sekitar lima tahun. Alasan utama karena tidak ada pilihan pekerjaan lain. Ini satu-satunya jalan supaya bisa mendapatkan penghasilan untuk keluarga.”ungkap Maria Eliana Kei, salah satu pekerja galian C dari Desa Mbomba, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, NTT.
Menurutnya pekerjaan di tambang galian c yang mereka lakukan saat ini penuh dengan resiko.
“Setiap hari kami bekerja di bawah terik matahari, angkat pasir, batu, kadang sampai malam. Tapi inilah pekerjaan yang ada. kalau tidak, kami tidak bisa biayai anak sekolah,” ujar wanita yang disapa Maria saat ditemui pada, Minggu, (5/10/2025).
Maria juga menambahkan terkait keluhan warga soal jalan rusak, ia tidak menutup mata.
“Kami sadar aktivitas galian ini berdampak ke jalan. Tapi kami juga tidak punya pilihan. Harapannya, pemerintah bisa perbaiki jalan, sehingga kami tetap bisa bekerja tapi warga lain juga nyaman lewat,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebelumnya, Caelestinus Wasa, selaku pengendara roda dua, menyampaikan bahwa dampak nyata aktivitas galian dirasakan langsung oleh semua para pengguna jalan.
“Kalau melewati jalur ini, jujur rasanya tidak nyaman. Jalan berlobang karena tergeras air akibat dari ulahnya manusia di dua wilayah antara, masyarakat Kelurahan Roworena Barat dan masyarakat Desa Mbomba,” ungkapnya.
Ia mengaku pernah melihat ada perbaikan jalan sejak beberapa tahun yang lalu.
“Sejauh pengamatan kami jalan pernah di perbaiki, namun tidak ada perawatan jalan yang rutin. Malah keruskan semakin banyak. Padahal jalan ini satu-satunya akses utama, baik untuk motor maupun mobil,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengakui ada sisi positif dari keberadaan galian.
“Sisi postif hal yang saya rasakan dengan keberadaan galian C bisa memberikan manfaat seperti, batu dan pasir untuk pembuatan rumah, rabat jalan, dll. Tapi di sisi lain jujur untuk transportasi lebih banyak dirugikan. Harapan saya, ke depan ada keseimbangan. Jalan diperbaiki, aktivitas tambang tetap jalan, tapi dengan aturan yang jelas supya tidak merugikan pengguna jalan,” tambahnya.
Sementara itu, Stanislaus Tara (Kepala Desa Mbomba), saat ditemui pada hari yang sama, Minggu, (5/10/2025) mengatakan bahwa pemerintah desa berada dalam posisi dilematis.
“Warga kami butuh pekerjaan, dan galian C ini membuka lapangan kerja. Tapi di sisi lain, kami juga menerima banyak keluhan dari pengguna jalan soal kerusakan. Pemerintah desa sudah berusaha menjembatani, tapi kewenangan kami terbatas, kami tidak bisa berbuat apa-apa karena ini adalah kewenangan Provinsi bukan Kabupaten atau Desa,”ujarnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi dan DPR Provinsi perlu memberi perhatian serius.
“Kami berharap agar DPR Provinsi membuka mata, melihat langsung kondisi jalan yang rusak akibat aktivitas galian. Perlu ada solusi nyata: perbaikan jalan secara rutin, pengawasan izin tambang, dan tanggung jawab untuk memelihara fasilitas umum,”katanya.
Kisah di balik galian C Ende-Nuabosi memperlihatkan tarik menarik kepentingan antara nafkah warga lokal dan kenyamanan publik pengguna jalan. Selama solusi komprehensif belum hadir, dilema ini akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Ende,ujarnya .



