Regional

Mengenal Pertunjukan Larik Dari Suku Weran di Riung,Kabupaten Ngada, NTT

Oleh: Maria Gabriela Sempok, Mahasiswa STIPAR Ende

Desa Taeng Terong, yang terletak di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, kembali menjadi pusat perhatian budaya saat masyarakat Suku Weran menggelar pertunjukan Larik (Seni tradisional-red) pada tanggal 11 Oktober 2025 di Lapangan Adat Suku Weran.

Pertunjukan tersebut sarat dengan makna dan menjadi simbol identitas leluhur Flores, Ngada, Riung.

Hermus Menang seorang Ketua Adat Suku Weran saat dihubungi pada Minggu (12/10/2025), mengatakan bahwa, Larik bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ritual adat yang mencerminkan keberanian dan kehormatan serta solidaritas.

Pertunjukan itu ditandai dimana dua orang penari laki-laki saling berhadapan, masing-masing membawa cambuk (larik) tameng (giling), Agang ( bambu lengkung ) menari dengan gerakan lincah dan penuh semangat diiringi alunan gong dan gendang yang menggugah,ujar Hermus.

Larik biasanya ditampilkan pada upacara upacara adat Suku Weran. Di Desa Taeng Terong, pertunjukan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Suku Weran, memperkuat ikatan antarwarga dan keempat suku di yanga ada dalam Desa Taen Terong. Keempat suku tersebut yaitu ( Suku Rea,Suku Tungal,Suku Wue,Suku Thado) sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur jelas Hermus Menang.

Generasi muda Suku Weran menunjukkan antusiasme tinggi dalam melestarikan larik. Mereka aktif berlatih di bawah bimbingan para tetua adat, mempelajari teknik, filosofi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap gerakan.

Pemerintah desa dan komunitas budaya turut mendukung dengan menyediakan fasilitas latihan dan mempromosikan larik sebagai aset wisata budaya ujar Hermus Menang.

Hermus Menang mengatakan bahwa keunikan Larik dari Suku Weran menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Banyak yang datang ke Riung untuk menyaksikan langsung pertunjukan ini, sekaligus mengenal lebih dalam tradisi dan kehidupan masyarakat adat Ngada,Riung, Terong.

Sementara itu tokoh adat lainnya, Florentinus Saverius Barag mengatakan larik merupakan ritus utama dalam ceremoni adat terong yang bermakna sebagai media pelatihan mental fisik, seni, dan spiritual ,seseorang ( khususnya para pria) dalam menghadapi berbagai gejolak sosial dan tantangan kehidupan.

Di samping itu juga sebagai sarana hiburan tahunan bagi masyarakat adat terong dan juga Riung pada umumnya dan manfaat yaitu untuk menjaga nilai- nilai leluhur budaya dan kearifan lokal jelas Florentinus Saverius Barang.

Tarian tersebut bukan hanya warisan budaya, tetapi juga cerminan semangat dan jati diri Suku Weran. Di tengah arus modernisasi, Desa Taeng Terong tetap teguh menjaga tradisi, menjadikannya sebagai kebanggaan dan kekuatan budaya yang hidup,ujar Florentinus.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan