Religi

100 Persen Katolik, 100 Persen Indonesia Bukan Sekedar Slogan Namun Panggilan Hidup

Renungan, Minggu (17/8/2025) oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

SALVE bagimu para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Apa kabar Anda di hari  ini . Saya berharap Anda dalam keadaan sehat, damai dan bahagia. Pada hari ini kita merayakan ulang tahun ke 80 Kemerdekaan Bangsa kita.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 22: 15 – 21, yakni tentang membayar pajak kepada Kaisar. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menghadapi suatu pertanyaan jebakan tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?Jawaban-Nya bukan hanya cerdas, tetapi juga mengandung prinsip hidup yang mendalam, yakni: keseimbangan antara tanggung jawab duniawi dan tanggung jawab rohani atau spiritual.

Bahwa sebagai warga negara Indonesia, kita memiliki kewajiban untuk mendukung kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk membayar pajak, menaati hukum, dan berkontribusi bagi kesejahteraan bersama. Namun, sebagai warga Gereja, dan warga Kerajaan Allah, kita juga dipanggil untuk memberikan persembahan kepada Tuhan: waktu, tenaga, harta, dan hidup kita sebagai bentuk syukur dan pengabdian.

Mgr. Albertus Soegijapranata pernah berkata:, kita adalah 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia. Pernyataan ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan hidup.

Bahwa kita tidak boleh memilih salah satu dan mengabaikan yang lain. Menjadi Katolik yang taat tidak berarti mengabaikan kewarganegaraan kita dan menjadi warga negara yang baik tidak berarti kita melupakan iman. Keduanya harus berjalan seimbang dan selaras.

Namun, Yesus juga menegaskan bahwa hanya satu yang layak disembah, yakni: Allah. Ketaatan kepada pemerintah tidak berarti kita menyembah negara. Tetapi kita taat karena itu bagian dari kehendak Allah, dan penyembahan kita hanya tertuju kepada-Nya.

Puncta (Poin) Renungan:

1. Taat kepada pemerintah adalah bagian dari tanggung jawab iman.

2. Memberi kepada Allah adalah bentuk syukur dan pengabdian.

3. Keseimbangan antara iman dan kewarganegaraan adalah panggilan hidup.

4. Hanya Tuhan yang layak disembah, bukan kekuasaan dunia.

Maka, mari kita hidup sebagai pribadi yang utuh, yang mencintai tanah air dan setia kepada Tuhan. Karena menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia bukanlah beban, melainkan berkat dan panggilan.

Pertanyaan Refleksi:

1. Sudahkah aku menjalankan tanggung jawabku sebagai warga negara dengan jujur dan penuh integritas, seperti membayar pajak dan menaati hukum?

2. Bagaimana aku menunjukkan kesetiaanku kepada Tuhan melalui persembahan waktu, tenaga, dan harta kepada Gereja dan sesama?

3. Dalam keseharian, apakah aku mampu menjaga keseimbangan antara kewajiban duniawi dan panggilan rohani atau spiritual tanpa mengabaikan salah satunya?

Selamat berefleksi dan selamat berhari Minggu… Salam Kemerdekaan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan