Opini

Dugaan Pemerasan Oknum Polisi di Polres Sikka Terhadap Warga, Pelanggaran Hukum Yang Serius

Oleh Marianus Gaharpung, Dosen FH Ubaya

Ada seorang ibu pernah mengatakan jika oknum polisi meninggal dunia ternyata masuk Surga, dia akan protes kepada Tuhan. Ada lagi pernyataan warga jika kita melapor kehilangan sepeda motor kepada instansi Polri, maka biaya yang dikeluarkan bisa- bisa melebihi harga motor.

Pernyataan  ibu ini bisa saja mewakili perasaan publik atas ketidakpuasan terhadap pelayanan dari oknum oknum polisi terhadap masyarakat.

Ada berita media online yang cukup heboh dan viral bahwa ada dugaan pemerasan oleh oknum polisi di Sikka.

Dugaan pemerasan oleh oknum polisi terhadap pengusaha minuman keras (miras) tradisional berupa moke di Kabupaten Sikka. 

Terungkap pasca seorang korban berinisial BW memberanikan diri buka suara.

Kepada awak media ini, Senin, 29 April 2024, BW yang diketahui merupakan sopir pengangkut moke itu pun menguraikan kejadian pilu yang dialaminya.

BW mengatakan, pada tanggal 23 April 2024, ia mengangkut sebanyak 33 jerigen moke dari Aimere, Kabupaten Ngada, ke wilayah Kabupaten Sikka.

Namun, perjalanan yang seharusnya berjalan lancar itu malah berubah menjadi kisah penuh tekanan, saat ia mengaku menjadi korban pemerasan oleh oknum polisi yang diduga merupakan anggota Polres Sikka.

Pertanyaan, mengapa masih saja ada oknum- oknum polisi berani dengan perilaku nyeleneh demikian?

Barangkali dugaan warga hal- hal yang demikian itu sudah menjadi kebiasaan. Atau disisi lain ada dugaan justru warga sering menggoda menawarkan “sesuatu” agar oknum polisi tidak memproses hukum.

Kasus dugaan pemerasan oknum polisi terhadap warga mengingatkan kita kepada Mantan Kapolri Hoegeng yang sangat jujur selama menjalankan profesi polisi.

Kata kata almahrum Hoegeng yang menjadi “api” spirit moral polisi. “Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan nasi dengan garam.

“Siapapun yang berjiwa penjahat pasti akan memusuhi polisi”. Kesederhaan Hidup Hoegeng dengan prinsip hidupnya sebagai polisi  menolak keras suap dari pengusaha, mengatur lalu lintas diperempatan dengan tertib, berantas semua beking kejahatan serta selalu berpesan supaya polisi jangan sampai bisa dibeli”.

Atas dugaan   pemerasan oleh oknum polisi terhadap sopir mobil truk yang mengangkut moke (arak) dari Aimere, Ngada menuju Maumere adalah bentuk pelanggaran niretik dan hukum yang serius, maka perlu diberikan sanksi yang serius jika terbukti.

Penyidik Polres Sikka ketika melakukan pemeriksaan terhadap pelapor atau korban dugaan pemerasan diharapkan obyektif, fair agar tidak terkesan adanya dugaan penekanan  terhadap pelapor.

Terhadap oknum polisi yang diduga melakukan pemerasan jika terbukti harus diberikan sanksi tegas jangan hanya dilakukan dimutasi jabatan artinya tidak mendidik dan memberikan efek jera.

Oleh karena itu, warga publik Sikka sangat percaya profesionalisme kerja Kapolres Sikka tanpa pandang bulu siapapun oknum polisi terbukti melanggar hukum dan etika kepolisian maka ditindak tegas. Semuanya ini agar memberikan kesan positif bahwa Polri Presisi

tidak sebatas slogan semata.

Polri yang presisi harus terwujud dalam sikap tindak polisi tetap menjaga etika dan hukum ketika berintereaksi dengan warga dalam penegakan hukum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan