Bimas Katolik Kemenag Jatim Hadirkan Dr Frater Monfort Untuk Bicara Soal Pendidikan Katolik
SURABAYA,GlobalFlores.com- Bimbingan Masyarakat Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Kegiatan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Agama Katolik Tingkat Sekolah Menengah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2023 dengan menghadirkan Fr. Dr. Klemens Mere, S.E.,M.Pd., M.M.,M.h.,M.A.P.,M.Ak sebagai narasumber dengan materi “Pandangan Gereja Katolik Mengenai Kurikulum Merdeka,Jumat (11/8/2023) di Great Diponegoro Hotel Surabaya, Jalan Diponegoro No. 215 Surabaya.
Dalam materinya Frater Monfort mengatakan bahwa satuan pendidikan dapat menentukan pilihan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pada Tahun Ajaran 2022/2023 sebagai berikut,
1 Mandiri Belajar, yaitu menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, dengan tetap menggunakan Kurikulum 2013 atau Kurikulum 2013 yang disederhanakan.
2 Mandiri Berubah, yaitu menerapkan Kunkulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan.
3. Mandiri Berbagi, yaitu menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar.
Dikatakan tema hari Studi KWI 2008: Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) sebagai Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul dan lebih Berpihak kepada yang Miskin.
Adapun ciri khas Lembaga Pendidikan Katolik yakni,menciptakan lingkungan dengan kebebasan dan cinta kasih juga mengembangkan dan memperdalam pengetahuan tentang dunia agar kehidupan manusia diterangi iman serta pendidikannya unggul seraya berpihak pada yang miskin.
LPK perlu berubah sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Perubahan itu mengandaikan pembaruan pola pikir.
Dalam upaya menciptakan dan memanfaatkan peluang untuk perubahan, lima unsur berikut perlu mendapat perhatian,kesetiaan terhadap kekhasan pendidikan Katolik, Komitmen terhadap inti aktivitas pelayanan. Pendidikan yang lebih berpihak pada orang miskin, Peningkatan kualitas sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan dan dana pendidikan yang memadai.
Dikatakan alasan mempelajari mata pelajaran pendidikan Agama Katolik, membekali peserta didik dengan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang bersumber dari Kitab Suci, Tradisi, Ajaran Gereja (Magisterium), dan pengalaman iman mereka.
Pendidikan Agama mendorong peserta didik menjadi pribadi beriman yang mampu menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari.
Juga memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesual ajaran iman Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama dan kepercayaan lain.
Adapun Profil Pelajar Pancasila yakni, Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; Berkebinekaan global; Bergotong royong: Mandiri dan bernalar kritis serta Kreatif).
Dikatakan, kemampuan yang perlu dicapai pelajar setelah mempelajari mata pelajaran Agama Katolik adalah agar peserta didik memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap membangun hidup yang semakin beriman (beraklak mulia) juga membangun hidup beriman Kristiani yang berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan, situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, dan kelestarian lingkungan hidup.
Dikatakan mendidik peserta didik menjadi manusia paripurna yang berkarakter mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebinekaan global sesuai dengan tata paham dan tata nilai yang diajarkan dan dicontohkan oleh Yesus Kristus sehingga nilai-nilai yang dihayati dapat tumbuh dan membudaya dalam sikap dan perilaku peserta didik.
Elemen-elemen (strands) atau domain mata pelajaran PAKat serta deskripsinya Elemen ini membahas tentang diri sebagai laki-laki atau perempuan yang memiliki kemampuan dan keterbatasan kelebihan dan kekurangan, yang dipanggil untuk membangun relasi dengan sesama serta lingkungannya sesuai dengan Tradisi Katolik.
Dikatakan adapun elemen pribadi peserta didik yang beragama Katolik yakni Elemen Yesus Kristus dan Elemen Gereja serta Elemen Masyarakat.
Elemen ini membahas tentang pribadi Yesus Kristus yang mewartakan Allah Bapa dan Kerajaan Allah, seperti yang terungkap dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, agar peserta didik berelasi dengan Yesus Kristus dan meneladani-Nya.
Elemen ini membahas tentang makna Gereja agar peserta
didik mampu mewujudkan kehidupan menggereja.
Elemen ini membahas tentang perwujudan iman dalam hidup bersama di tengah masyarakat sesuai dengan Tradisi Katolik,ujar Frater Monfort.
Sedangkan Elemen Masyarakat diharapkan peserta didik mewujudkan imannya melalui upaya membangun kehidupan bersama berlandaskan pada Kebebasan sebagai Anak-anak Allah dan Sabda Bahagia.
Peserta didik mengimani Allah sebagai sumber keselamatan yang sejati dan menanggapinya dalam kebersamaan dengan jemaat serta meneladan Maria.
Juga beriman di tengah masyarakat dengan mewujudkan hak dan kewajiban sebagai anggota Gereja dan masyarakat, menghargai keluhuran martabat manusia dengan mengembangkan budaya kehidupan, mengembangkan keadilan dan kejujuran, bersahabat dengan alam.
Serta beriman dengan membangun persaudaraan dengan semua orang berdasar sikap Gereja Katolik terhadap agama dan kepercayaan lain sehingga dapat membangun kebersamaan. Akhirnya peserta didik dapat mewujudkan makna iman dalam perilaku hidupnya sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati.
Elemen Pribadi Peserta didik Peserta didik mampu memahami dirinya sebagai pibadi yang unik, setara antara laki-laki dan perempuan, serta memiliki kean sebagai Citra Allah; memiliki suara hati sehingga mampu bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap pengaruh media massa, ideologi dan gaya hidup yang berkembang saat ini.
Sedangan Elemen Yesus Kristus diharapkan peserta didik memahami Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Tradisi Suci dan Magisterium sebagai sumber untuk mengenal pribadi Yesus dan karya-Nya yang mewartakan dan memperjuangkan Kerajaan Allah, sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga; memahami peran Roh Kudus dan Allah Tri Tunggal.
Pada akhirnya peserta didik mampu meneladan Yesus sebagai idola, sahabat sejati, Putera Allah dan Juru selamat serta membangun hidup yang berpolakan pribadi Yesus Kristus sebagai perwujudan imannya di tengah masyarakat.
Peserta didik mampu memahami arti dan makna Gereja, sifat Gereja (Satu, Kudus, Katolik, Apostolik), peran hierarki dan awam dalam Gereja, karya pastoral Gereja (Liturgia, Kerygma, Martyria, Koinonia, Diakonia).
Sedangkan Elemen Masyarakat, peserta didik diharapkan mampu memahami hubungan Gereja dan dunia, Ajaran Sosial Gereja, Hak Asasi Manusia dalam terang Kitab Suci dan Ajaran Gereja.
Juga mengembangkan budaya kasih, menyadari hidup itu milik Allah (contoh kasus hidup sehat (bebas dari HIV/AIDS dan obat terlarang).
Pada akhirnya peserta didik dapat mengambil bagian dalam mewujudkan sifat-sifat dan karya pastoral Gereja dalam hidupnya serta menjadi agen dalam pengembangan moral hidup Kristiani dalam masyarakat.
Peserta didik mampu memperjuangkan nilai-nilai penting dalam masyarakat yang bermartabat seturut ajaran Yesus; menghargai keberagaman dalam masyarakat sebagai anugerah Allah, membangun dialog dan kerja sama antar umat beragama dan berkepercayaan serta berperan dalam pembangunan bangsa Indonesia, sebagal perwujudan imannya dalam hidup sehari-hari di tengah keluarga, Gereja dan masyarakat,ujar Frater Monfort.



