Regional

Dalam Rakor di Mbay Presiden Prabowo Jelaskan Alasan Dirinya Tidak Datang Saat Awal Terjadi Gempa Flores

MBAY,GlobalFlores.com- Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).

Kedatangan Presiden Prabowo disambut langsung Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto, dan Kapolda NTT, Rudi Darmoko dan Bupati Nagekeo Simplisius Donatus.

Kedatangan Presiden Prabowo ke Nagekeo untuk meninjau secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak gempa bumi Flores sekaligus memastikan penanganan dan dukungan pemerintah bagi masyarakat terdampak berjalan secara optimal.

Setibanya di Nagekeo, Presiden Prabowo langsung menggelar rapat koordinasi bersama para menteri, jajaran TNI dan Polri, Gubernur NTT, serta bupati Nagekeo di posko penanganan bencana.

Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah bergerak cepat dalam menangani dampak gempa bumi Flores.

“Sampaikan terima kasih saya atas nama pemerintah pusat kepada seluruh saudara sekalian semuanya yang telah bekerja sangat keras, reaksi cepat,” kata Prabowo.

Presiden menjelaskan bahwa dirinya sengaja tidak langsung datang ke lokasi bencana pada hari-hari awal setelah gempa.

Menurutnya, keputusan tersebut dilakukan agar seluruh instansi di daerah dapat fokus memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat tanpa terganggu oleh aktivitas kunjungan pejabat pusat.

“Memang sengaja saya di awal-awal saya tidak mau datang karena saya mau memberi kesempatan semua instansi untuk melayani rakyat langsung. Kadang-kadang kalau terlalu banyak pejabat pusat datang terpecah konsentrasi,”katanya.

“Tapi kita terus memonitor dan yang paling penting dari pusat adalah mengerahkan pelayanan dan bantuan, itu yang paling penting ya. Kalau kita datang habis itu hanya lihat bencana tapi tidak bisa mengatasi, tidak bisa kirim bantuan, ya itu akhirnya kurang efektif,” ujarnya.

Presiden Prabowo mengatakan pemerintah pusat terus memantau perkembangan penanganan bencana di daerah dan memastikan dukungan serta bantuan dapat diberikan secara maksimal.

“Jadi setelah saya dapat laporan dari daerah, saya pantau, kita sudah berbuat maksimal. Tentunya kita ingin berbuat lebih, ya. Terima kasih tadi laporan dari gubernur dan bupati, saya terima kasih,” kata Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo dalam kesempatan tersebut juga menekankan pentingnya keberanian bagi seorang pemimpin, terutama keberanian untuk mendengar, mencari tahu, dan memahami kondisi masyarakat yang paling jauh, paling sulit, paling miskin, dan paling tidak berdaya.

“Kalau saya memimpin, saya itu punya moto untuk diri saya dan untuk yang saya pimpin, siapa berani, menang. Jadi pemimpin Itu harus berani, berani berpikir, berani bertanya, berani mendengar, berani mencari tahu yang benar-benar dirasakan orang yang paling jauh, paling susah, paling miskin, paling tidak berdaya,” ujarnya.

Presiden menegaskan bahwa keberanian tersebut harus menjadi karakter para pemimpin di daerah karena gubernur, bupati, camat, hingga kepala desa merupakan pemimpin rakyat yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, para pemimpin daerah dituntut untuk benar-benar memahami kebutuhan dan kondisi masyarakat yang mereka layani.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto melaporkan perkembangan penanganan tanggap darurat bencana gempa bumi Flores.

Berdasarkan laporan BNPB, dampak gempa dirasakan di tujuh kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka. Sementara Kabupaten Flores Timur tidak terdampak langsung gempa, namun wilayah tersebut masih menghadapi dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Suharyanto juga melaporkan aktivitas gempa susulan yang masih terjadi sejak gempa utama pada 15 Agustus 2026. Hingga data terakhir yang dilaporkan, tercatat 7.259 kali gempa, sementara gempa susulan yang dirasakan masyarakat mencapai 143 kejadian.

Tingginya aktivitas gempa susulan menyebabkan banyak masyarakat memilih mengungsi dan tidur di luar rumah karena khawatir terhadap keselamatan, meskipun sebagian besar pengungsi tidak mengalami dampak langsung pada tempat tinggal mereka.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan