ROHANI TERKUBUR, GENERASI TERBAWA ARUS HIBURAN PRESPEKTIF ANAK MUDA KATOLIK

Oleh: Paulina Sinar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Stipas St. Sirilis Ruteng
Ditengah gemerlap dunia digital yang tak pernah tidur, generasi muda hidup dalam arus hiburan yang deras dan tanpa henti. Media sosial, gim daring,konser musik, hingga film blokbuster seperti Avengers, Endgame menjadi bagian dari keseharian. Sebagai anak muda Katolik, kita hidup dalam realitas yang paradoks (bertentangan).
Di satu sisi, Gereja melalui dokumen seperti Christus Vivit dari Pope Francis yang mengajak kaum muda untuk menjadi terang dan garam dunia. Disisi lain, dunia moderen menawarkan kenyamanan instan yang sering kali membuat kita lupa akan kedalaman iman.
Doa terasa membosankan, misa dianggap sebagai rutinitas, dan pelayanan sebagai beban, sementara notifikasi media sosial lebih cepat menyentuh hati dibandingkan dengan Sabda Tuhan.
Fenomena ini bukan hanya semata-mata soal kemalasan rohani. Ini adalah soal arah. Generasi muda dibentuk oleh algoritma yang segala sesuatu dikurasi untuk menyenangkan, menghibur, dan memuaskan keinginan sesaat. Tanpa kita sadari, spiritualitas perlahan terkubur oleh budaya “Viral” dan “Trending”. Nilai ukur dari jumlah likes, bukan dari kedalaman karakter.
Identitas dibangun dari citra digital, bukan dari kesadaran sebagai anak Allah. Sosiologi seperti Neil Postam dalam bukunya Amusing Ourselves To Death mengingatkan bahwa masyarakat modren berisiko “menghibur diri sampai mati”.
Menurutnya, budaya yang didominasi media dan hiburan dapat menggeser cara berpikir manusia dari reflektif menjadi reaktif dan dari mendalam menjadi dangkal.
Bagi generasi muda, hal ini berarti perhatian yang terpecah, kesulitan untuk hening, dan menurunnya minat terhadap aktivitas yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang termasuk doa dan refleksi rohani.
Psikologi dan pakar kecanduan digital seperti Jean Twenge melalui bukunya iGen menyoroti bagaimana generasi yang tumbuh bersama smartphone mengalami peningkatan kecemasan, depresi, dan kesepian.
Hiburan dirancang untuk merangsang dopamin atau zat kimia diotak yang berkaitan dengan rasa senang. Ketika seseorang terbiasa dengan stimulasi instan, aktivitas yang tidak memberi kepuasan cepat seperti doa, membaca Kitab Suci atau mengikuti Misa dapat terasa kurang menarik bagi anak muda zaman sekarang.
Dari sisi teologis dan filsafat, Viktor Frankl dalam Man’s Search For Meaning menekankan bahwa manusia pada dasarnya mencari makna, bukan sekedar kesenangan. Ketika hidup hanya berpusat pada hiburan, manusia dapat mengalami ” kekosongan eksistensial” yaitu perasaan hampa yang sulit untuk dijelaskan.
Dalam konteks iman Katolik, hiburan yang berlebihan bisa menjadi bentuk pelarian dari pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang tujuan hidup, panggilan, dan relasi dengan Tuhan.
Dalam dokumen Christus Vivit, Pope Francis mengakui bahwa dunia digital adalah bagian dari realitas kaum muda. Namun ia juga mengingatkan bahwa ruang digital bisa menjadi tempat isolasi, manipulasi, dan ilusi identitas. Gereja tidak menolak teknologi, tetapi mengajak kaum muda untuk menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab.
Namun, menyalakan hiburan sepenuhnya itu juga bukan sebagai solusi. Hiburan adalah bagian dari kebudayaan dari hidup manusia. Bahkan gereja juga tidak anti pada perkembangan zaman.
Masalah itu muncul ketika hiburan yang hanya didapatkan semata itu bisa menggantikan Tuhan, ketika layar menjadi altar baru bagi anak muda, dan validasi publik lebih dicari daripada perkenaan ilahi.Sebagai generasi muda Katolik, kita dipanggil untuk bisa berpikir bijak, bukan sebaliknya yaitu lari dari dunia.
Kita dipanggil untuk menjadi anti media sosial, tetapi kita juga bisa menjadi pewarta di dalamnya. Kita di panggil bukan untuk menolak suatu budaya yang sedang populer, melainkan bisa menyaringinya dan mengimbanginya dengan nilai Injil dan pewartaan kita kepada Tuhan.
Dunia digital bisa menjadi ladang misi bagi kita khususnya generasi muda sekarang jika digunakan dengan penuh kesadaran diri dan kesadaan Iman. Kebangkitan rohani generasi muda tidak akan lahir dari larangan, melainkan dari kesadaran yang berasal dari dalam diri sendiri. Kesadaran bahwa hidup itu bukan hanya soal hiburan, melainkan tentang makna hidup. Kesadaran bahwa kebahagian sejati tidak ditemukan dalam scroll tanpa akhir, melainkan dalam relasi antara sesama yang hidup bersama dengan kasih Tuhan.
Dengan demikian, Rohani yang terkubur masih bisa dibangkitkan, Iman yang redup masih bisa dinyalakan kembali, sikap yang malas masih bisa diubah. Karena pada akhirnya, generasi muda tidak akan dikenang karena seberapa banyak konten yang mereka konsumsi, melainkan karena seberapa dalam mereka hidup dalam kasih dan kebenaran akan Tuhan.



