Kampung Giriwawo, Kabupaten Nagekeo: Tempat Sakral Diatas Gunung, Sumber Obat Tradisional dan Jejak Sejarah Penjajahan

Oleh: Krismilinda Wonga, Mahasiswa STIPAR Ende
MBAY,GlobalFlores.com – Ditengah hamparan perbukitan di Kecamatan Keo Tengah,Kabupaten Nagekeo, berdiri sebuah gunung yang dinamakan Kedi koto (Gunung Koto) yang menjadi saksi bisu ikatan leluhur warga Kampung Giriwawo di Kecamatan Keo Tengah.
Warga setempat melakukan kegiatan ini dalam satu tahun sekali yang dilakukan di sebuah lokasi sakral yang berada di atas gunung. Tempat ini tidak hanya dikenal sebagai sumber obat-obatan tradisional, tetapi juga menyimpan jejak sejarah penting sejak masa penjajahan.
Warga Giriwawo berkumpul di tengah hutan yang rimbun, duduk melingkar sambil menikmati hidangan sederhana.
Di lokasi tersebut terdapat sebuah tugu kecil dan susunan batu yang dianggap sebagai bagian dari tempat keramat yang dijaga secara turun-temurun.
Sebelum memasuki area utama, masyarakat biasanya melaksanakan ritual adat sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan.
Markus Bhuja warga desa setempat yang ditemui pada, Rabu (11/11/2025) menyatakan kampung terus menjadi bagian penting dalam memahami sejarah Lokal Giriwawo.
Markus menyatakan kawasan gunung ini merupakan pusat pencarian berbagai tanaman obat yang hanya tumbuh di daerah tersebut.
Berbagai jenis akar, daun, dan tumbuhan dipercaya memiliki khasiat medis untuk pengobatan tradisional, sehingga tempat ini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka.
Aktivitas pencarian obat biasanya diawali dengan doa dan upacara adat, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam,ujar Markus.
Selain sebagai pusat kearifan lokal, lokasi di puncak gunung ini juga menyimpan nilai sejarah yang kuat.
Markus menyatakan, pada masa penjajahan dahulu, tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi persembunyian bangsa Belanda. Kondisi alam yang tertutup dan sulit dijangkau membuat kawasan ini menjadi tempat persembunyian yang strategis. Jejak sejarah ini hingga kini masih menjadi cerita turun-temurun di Kampung Giriwawo.
Keberadaan situs sejarah ini semakin menegaskan bahwa gunung di Giriwawo bukan hanya bagian dari kekayaan alam, tetapi juga saksi perjalanan panjang masyarakat setempat.
Walau tidak banyak catatan tertulis, Warga Giriwawo berharap tempat sakral dan bersejarah ini tetap dilestarikan, baik dari kerusakan alam maupun ancaman aktivitas manusia.
Mereka percaya bahwa menjaga kelestarian tempat ini berarti menjaga warisan budaya dan sejarah leluhur.
“Tempat ini bukan hanya hutan biasa. Di sini ada cerita leluhur, tempat sakral, dan juga sejarah masa penjajahan. Semua itu adalah bagian dari identitas kami,” ungkap Markus.
Kampung Giriwawo dengan tradisi dan kearifan lokalnya menjadi bukti bahwa hubungan manusia dengan alam masih terjaga kuat di tengah perkembangan zaman. Tempat ini tidak hanya menyimpan sumber pengobatan alami, tetapi juga cerita, sejarah, dan warisan budaya yang bernilai bagi generasi mendatang,ungkap Markus.
” Jaga dan rawatlah Kedi Koto seperti kamu menjaga hidupmu sendiri. Jangan biarkan tangan-tangan yang tidak mengerti merusak tempat ini. Apa yang kita miliki di puncak gunung ini bukan hanya batu, pohon, atau tugu kecil tetapi roh persatuan, keberanian, dan hikmat nenek moyang,”kata Markus.



