Regional

Melihat Tradisi Warga Mangulewa di Kabupaten Ngada, NTT, Menghidupkan Kembali Semangat Leluhur Lewat Perbaikan Rumah Adat

Oleh,Maria Kristina Bupu (Mahasiswa STIPAR Ende)

BAJAWA,GlobalFlores.com – Di tengah hamparan perbukitan Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, berdiri deretan Ngadhu dan Bhaga (Rumah adat-red) yang menjadi saksi bisu ikatan leluhur Warga Mangulewa, tempat di mana setiap lima tahun sekali semangat kebersamaan dan warisan adat kembali dihidupkan lewat upacara perbaikan atapnya.

Setiap lima tahun sekali, masyarakat Mangulewa kembali menggelar tradisi adat yang penuh makna, yakni perbaikan Ngadhu dan Bhaga.

Kegiatan sakral ini berlangsung pada 2 sampai 8 Juli 2025, dan melibatkan seluruh warga atau woe (Kerabat-red) sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur serta pelestarian nilai budaya warisan nenek moyang.
Hal tersebut dikatakan oleh Antonius Puu sebagai salah satu warga atau woe di Ngadhu dan Bhaga di Mangulewa, Rabu (15/10/2025).

Pria yang disapa Antonius menjelaskan Ngadhu dan Bhaga memiliki makna mendalam yang melambangkan suami dan istri yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam kehidupan masyarakat adat, keduanya merupakan simbol keseimbangan, keharmonisan, dan persatuan antara laki-laki dan perempuan, serta hubungan manusia dengan leluhur.

“Ngadhu dan Bhaga bukan hanya bangunan adat, tapi lambang kehidupan dan keseimbangan. Keduanya menggambarkan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, seperti hubungan manusia dengan pencipta dan leluhurnya,”kata Antonius.

Antonius menyatakan, tradisi ini dilaksanakan secara gotong royong oleh seluruh anggota suku.

Sebelum kegiatan dimulai, warga menyiapkan berbagai bahan dari alam seperti alang-alang juga ijuk serta bambu dan tali dari bambu muda serta kain merah sebagai marangia (pengikat kepala Ngadhu-red).

Selain itu, mereka juga menyiapkan bahan makanan seperti beras dan babi juga ayam untuk kebutuhan ritual dan konsumsi selama proses berlangsung.

  Tahapan Ritual dan Proses Perbaikan

Antonius menjelaskan kegiatan perbaikan diawali dengan ritual pembongkaran Ngadhu dan Bhaga yang disertai pengorbanan hewan berupa babi atau ayam.

Darah hewan ini dioleskan pada Ngadhu dan Bhaga sebagai tanda izin kepada leluhur untuk memperbaiki bagian yang sudah rusak.

Tahapan selanjutnya adalah rae keri (pembongkaran keri atau alang -alang) penyusunan rangka atap dari bilah bambu dan tali ijuk,pertama yang naik ke atap untuk meletakkan alang-alang terakhir harus seorang laki-laki dari Sao Saka Lobo berikutnya pume kerja sewi keri, di mana rangka atap dibasahi dengan darah babi dari saka lobo Setelah itu, dilakukan pemasangan kain merah (marangia)di bagian kepala Ngadhu sebagai simbol kehidupan dan kekuatan,jelas Antonius.

Dikatakan,puncak acara dikenal sebagai upacara Rete Keri, yaitu saat potongan alang-alang terakhir dipasang dan dilanjutkan dengan penyembelihan kerbau , hewan lain tidak boleh digunakan sebagai pengganti.

Setelah seluruh tahapan selesai, seluruh warga berkumpul di rumah adat (Sao) untuk makan bersama dan melanjutkan upacara usu sao sebagai simbol persatuan, penghapusan hal-hal jahat, dan doa bersama agar diberkati oleh Tuhan dan leluhur.

“Upacara ini menandakan kita telah disatukan kembali sebagai satu keluarga besar dan dijauhkan dari segala yang tidak baik,”kata Antonius.

Makna Spiritual dan Nilai Luhur

Bagi masyarakat Mangulewa, seluruh proses ritual ini dikenal dengan istilah Logo Soi Dewa Role Nitu, yang berarti wujud syukur kepada Tuhan Sang Pencipta dan penghormatan kepada leluhur.

Semua bahan yang digunakan berasal dari alam, sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan ciptaan Tuhan.

“Segala sesuatu berasal dari Tuhan dan diturunkan lewat leluhur. Karena itu, kami selalu bersyukur dan menjaga tradisi ini sebagai wujud iman dan penghormatan,” ujar Antonius.

Antonius mengatakan bahwa seluruh tahapan harus dilakukan sesuai dengan struktur asli warisan nenek moyang tanpa boleh diubah. Setiap bentuk dan ukuran Ngadhu dan Bhaga dipertahankan sebagaimana dahulu.

Nilai Sosial dan Tantangan

Perbaikan Ngadhu dan Bhaga bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kerja sama, dan persatuan di antara warga. Generasi muda wajib dilibatkan agar mereka memahami dan menghargai warisan budaya ini.

“Anak-anak muda harus ikut supaya mereka belajar dan siap menggantikan peran orang tua kelak. Tradisi ini adalah pendidikan budaya yang hidup,” ungkap Antonius.

Namun demikian, pelaksanaan ritual ini menghadapi tantangan, terutama dalam hal biaya. Persiapan bahan, hewan kurban, dan logistik memerlukan dana besar. Meski begitu, warga tetap melaksanakannya dengan semangat kebersamaan.

“Biaya memang cukup besar, tapi semua warga rela berkorban karena kegiatan ini mempersatukan, mempererat persaudaraan, saling mendukung, dan memotivasi satu sama lain. Banyak nilai positif yang lahir dari sini,” kata Antonius.

“Pentingnya menjaga warisan budaya ini agar tidak punah di tengah arus modernisasi. Budaya ini adalah identitas kita. Jangan pernah melupakannya. Kita harus terus mewariskan nilai-nilai persatuan dan kesatuan dari leluhur kepada generasi berikutnya. Inilah yang membuat kita tetap menjadi satu dalam Woe Mangulewa,”kata Antonius.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan