Religi

Ini Makna Dari Mujizat Lima Roti dan Dua Ekor Ikan Dari Yesus Kepada Manusia

Renungan, Minggu (21/6/2025) oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

DAMAI SEJAHTERA bagimu, para saudaraku yang terkasih dalam Kristus. Saya berharap menjumpai para saudaraku dalam keadaan damai, sehat dan bahagia lahir dan batin.

Pada hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 9: 11b – 17, yakni Yesus memberi makan lima ribu orang.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita menyaksikan Yesus yang bukan hanya mengajarkan orang banyak, tetapi juga menyembuhkan mereka yang memerlukan pertolongan. Ketika hari mulai malam, para murid meminta Yesus menyuruh orang banyak pergi mencari makanan.

Namun, Yesus menanggapi dengan perintah yang mencengangkan: Kamu harus memberi mereka makan! Bahwa di tengah keterbatasan, hanya lima roti dan dua ikan, Yesus tetap menggerakkan murid-murid-Nya untuk bertindak. Ia memberkati apa yang tersedia, dan dari tangan para muridlah makanan dibagikan hingga semua kenyang.

Tindakan ini bukan hanya mukjizat, tetapi juga pelajaran penting: kepekaan dan kepedulian adalah pintu bagi kasih Allah untuk bekerja.

Seringkali, kita menunggu lebih dulu diberi sebelum kita mau berbagi. Namun, Yesus mengundang kita untuk mulai dari apa yang kita miliki, entah sedikit waktu, perhatian, atau bantuan kecil, dan percaya bahwa ketika dilakukan dengan kasih, hal itu cukup untuk menjadi berkat bagi sesama.

Jadi, dengan lima roti dan dua ikan, Yesus menunjukkan kuasa-Nya sekaligus mengajarkan kita untuk peka dan peduli terhadap kebutuhan sesama di sekitar kita. 

Pelajaran Hidup dari bacaan Injil hari ini: 

Pertama, melihat dengan hati: Yesus tidak mengabaikan kelaparan orang banyak. Kita diajak untuk peka dan peduli untuk kebutuhan sesama, bukan hanya dengan MATA, tetapi dengan HATI yang penuh belas kasih. 

Kedua Berkontribusi dengan Apa yang Ada: Murid-murid ragu karena persediaan minim, tetapi Yesus mengubah yang sedikit yang mereka miliki menjadi berkelimpahan. Kita pun bisa berbagi sekalipun kita berkecukupan atau berkekurangan.

Ketiga Tindakan Nyata: Kepekaan dan kepedulian bukan hanya rasa simpati, iba, welas asih, dan belas kasihan, tetapi diwujudkan dalam tindakan. Yesus tidak berhenti pada kata-kata atau NARASI, tetapi bertindak atau AKSI dengan memberi makan ribuan orang. 

Pertanyaan Refleksi:

1. Apakah aku cukup peka dan peduli terhadap kebutuhan orang di sekitarku?

2. Apakah aku bersedia menjadi sarana berkat, meski dengan hal sederhana, kecil, bagi sesama yang membutuhkan uluran tanganku?

Selamat berefleksi &  Selamat berhari Minggu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan