Regional

Sepenggal Kisah Perjumpaan Desy Natalia Wartawan RRI Ende Dengan Paus Fransiskus

Kematian Paus Fransiskus pada Senin (21/4/2025) meninggalkan duka bagi umat manusia utamanya Umat Katolik.

Berbagai kisah inspiratif yang tergores selama hidup yang diberikan Paus Fransiskus kini tinggal menjadi memori indah perjalanan hidup manusia baik yang bertemu secara langsung maupun tidak.

Dan salah satu umat Katolik yang beruntung bisa bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan Paus kelahiran Argentina itu adalah, Natalia Desiyanti, jurnalis RRI Ende.

Berikut kisah Desy demikian panggilannya saat bertemu dengan Paus Fransiskus yang dikisahkannya kepada media.

Pada pagi Natal 25 Desember 2018, dunia seolah memeluk lebih erat harapan dan damai. Namun bagi Natalia Desiyanti, jurnalis RRI asal Ende, Nusa Tenggara Timur, hari itu menjelma menjadi anugerah yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya: bertemu langsung dengan Sri Paus Fransiskus di Vatikan.

Sepekan sebelum keberangkatan, Desy — begitu ia biasa disapa — bahkan masih meraba-raba apakah mimpi ini nyata. Ia lolos dari seleksi ketat ribuan angkasawan dan angkasawati RRI se-Indonesia, membuktikan bahwa tekad, kerja keras, dan keyakinan mampu mengantar anak kampung kecil di Timur Indonesia itu ke panggung dunia.

“Sampai hari ini pun saya masih merasa seperti bermimpi,” kata Desy, matanya berkaca-kaca saat menceritakan pengalamannya.

Desy tinggal di Rumah SVD, tempat yang sarat makna. Di sana, ia berbagi atap dengan orang-orang hebat: Pater Paul Budi Kleden, Superior General SVD pertama asal Indonesia, (saat ini Uskup Agung Ende-red), Pater Markus Solo Kewuta, Direktur Eksekutif Relasi Lintas Agama Asia Pasifik di Vatikan, dan sejumlah pastor NTT lainnya.
Setiap pertemuan, setiap obrolan di meja makan sederhana, membuatnya menyadari: orang NTT mampu bersinar seterang bintang mana pun di langit dunia.

“Orang NTT sangat membanggakan. Ini harus menjadi motivator kita semua bahwa kita bisa,” ujar Desy, senyumnya mengembang dalam kesederhanaan.

Menjalani tugas jurnalistik di musim dingin Italia bukan perkara mudah. Tubuhnya harus beradaptasi dengan suhu menusuk tulang, menahan kantuk karena perbedaan waktu tujuh jam, serta belajar mencintai cita rasa pasta dan roti keras — jauh dari nasi panas dan sambal pedas di tanah air.

“Hari pertama itu berat sekali. Tapi di hari kedua, saya belajar berkata dalam hati, ‘Tuhan yang membawa saya ke sini, Tuhan juga yang menguatkan saya,’” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Puncak perjalanan itu terjadi saat ia diberi kesempatan langka: beraudiensi dengan Paus Fransiskus. Di tengah lautan manusia dari seluruh dunia, Desy, seorang putri Ende, berdiri menghadap pemimpin umat Katolik sedunia.

Saat Paus Fransiskus menatapnya — tatapan yang dalam, hangat, seolah melihat jauh ke dalam jiwanya — Desy hanya bisa membungkuk hormat. Dalam benaknya, ia membisikkan doa penuh syukur: untuk keluarganya, untuk tanah kelahirannya, untuk semua yang mempercayainya.

“Momen itu… tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Seolah dunia berhenti sejenak. Saya hanya merasa: saya dicintai,” tutur Desy dengan suara parau, kenangan itu masih begitu hidup di hatinya.

Kembali ke Indonesia, Desy kini menjadi lentera kecil bagi banyak orang muda di Timur. Setiap ia membagikan kisahnya — tentang bertemu orang-orang hebat, mengelilingi Basilika Santo Petrus, mewawancarai Duta Besar RI untuk Vatikan — ia tidak hanya membagikan cerita, tetapi juga menyalakan harapan.

“Tidak ada yang tidak mungkin. Asal kita berusaha sungguh dalam nama Tuhan,” ucapnya mantap.

Natal itu, Desy tidak hanya membawa pulang pengalaman jurnalistik. Ia membawa pulang iman yang diperbarui, mimpi yang diperbesar, dan pesan sederhana yang kini terus ia sebarkan: Bahwa anak-anak dari Timur juga bisa melangkah sejauh mungkin — jika hati mereka setia pada panggilan Tuhan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan