Integritas Katekis Sebagai Misionaris Modern
Oleh: Fransiskus Zaverius M. Deidhae, Ketua STIPAR Ende
A. Pendahuluan
Perkembangan zaman yang cepat, terutama dalam konteks teknologi dan perubahan sosial, telah memberikan tantangan yang signifikan bagi berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek spiritual dan religius. Katekis, sebagai pendidik iman yang memiliki peran penting dalam mewartakan ajaran agama, dihadapkan pada tantangan baru yang muncul akibat sekularisme dan berbagai ekses kemajuan teknologi. Dalam kajian ini, dieksplorasi peran katekis di tengah perubahan zaman serta strategi yang dapat ditempuh untuk menghadapi tantangan tersebut.
Pemaparan ini menggunakan pendekatan sistematik literatur review dengan fokus pada artikel hasil penelitian tentang trend perkembangan modern. Refleksi atas fenomena yang sedang terjadi berupa tantangan krisis identitas disertai sekularisme dan individualisme selanjutnya dihadapkan dengan peran dan tanggungjawab yang mesti ditempuh para katekis. Analisis data dilakukan dengan metode meta-analisis untuk mendapatkan kesimpulan yang komprehensif. Pilihan strategi yang dipilih merupakan analisis atas kenyataan berhadapan dengan target yang mesti dicapai. Jalan keindahan merupakan pilihan strategis yang diyakini efisien membawa perubahan.
B.Tugas dan Fungsi Katekis Katolik
Petunjuk Umum Katekese (Komkat, 2021: art.113) mengartikan katekis sebagai saksi, guru, dan pendamping iman yang dengan kemampuan dan keahliannya membawa umat kepada kebenaran ilahi. Petunjuk Umum Katekese memandang katekese sebagai bagian integral dari kehidupan iman umat. Karena itu semua umat beriman terutama pastor paroki, diakon, biawaran/biarawati, serta katekis awam mesti menjadi bagian dalam katekese sebagai karya Gereja yang fundamental. Konsep ini sejalan dengan KHK 773 yang menyatakan bahwa “Menjadi tugas khusus dan berat, terutama bagi para gembala jiwa-jiwa, untuk mengusahakan katekese umat kristiani agar iman kaum beriman melalui pengajaran agama dan melalui pengalaman kehidupan kristiani, menjadi hidup, berkembang, serta penuh daya”.
Surat apostolic Paus Yohanes Paulus II, Catechesi Tradendae (Komkat, 1977) mendefinisikan katekis dalam pengertian yang lebih spesifik yakni sebagai umat awam yang telah melalui proses pendidikan dan hidup sesuai dengan Injil. Dengan kata lain, katekis adalah seorang yang telah disiapkan melalui kursus atau pendidikan khusus dan diutus Gereja, sesuai dengan keperluan setempat, dan bertugas membawa umat untuk lebih mengenali dan mencintai Yesus.
Bertolak dari ketiga dokumen di atas, secara hakiki dapat disimpulkan bahwa katekis memiliki peran utama mengajar atau mewartakan injil. Tugas ini sebenaranya menjadi tugas pokok semua umat beriman sebagai murid-murid Kristus karena Yesus sendiri telah memerintahkan para murid dan pengikutNya, “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28,19).
Sehubungan dengan peran Katekis Katolik yang sangat penting dalam pengajaran iman dan pembentukan karakter umat, tugas utama seorang katekis adalah menyampaikan ajaran Gereja dengan cara yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Fungsi ini dapat pula mencakupi pengembangan komunitas gereja. Melalui program-program katekese, katekis dapat menciptakan lingkungan di mana umat dapat saling mendukung dalam perjalanan iman mereka. Sebuah studi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Agama dan Masyarakat (2021) menunjukkan bahwa paroki yang aktif mengadakan katekese memiliki tingkat partisipasi umat yang lebih tinggi dalam kegiatan gereja. Hal ini menunjukkan bahwa katekis memiliki peran sentral dalam membangun komunitas yang kuat dan saling mendukung.
Selain itu, katekis juga bertugas untuk mengadaptasi materi ajaran sesuai dengan konteks budaya dan sosial masyarakat. Dalam era globalisasi ini, di mana informasi dapat diakses dengan mudah, katekis dituntut untuk menyampaikan ajaran agama dengan cara yang menarik dan relevan. Misalnya, penggunaan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan ajaran Katolik telah menjadi strategi yang efektif. Menurut laporan dari Pew Research Center (2020), sekitar 70% remaja menggunakan media sosial sebagai sumber informasi, sehingga katekis perlu memanfaatkan platform ini untuk menjangkau generasi muda.
Katekis juga berperan dalam pembinaan moral dan etika. Dalam menghadapi tantangan moral yang kompleks di dunia modern, katekis harus mampu memberikan panduan yang jelas berdasarkan ajaran Gereja. Misalnya, dalam isu-isu seperti aborsi, pernikahan sesama jenis (LGBT), dan hak asasi manusia, katekis perlu memberikan perspektif yang berlandaskan pada ajaran Kristiani. Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial (2022) menunjukkan bahwa 65% umat Katolik merasa bingung dalam mengambil keputusan moral, sehingga peran katekis menjadi sangat penting dalam memberikan bimbingan.
Dengan demikian, tugas dan fungsi katekis Katolik tidak hanya terbatas pada pengajaran, melainkan pula mencakup pemberdayaan komunitas, adaptasi budaya, dan pembinaan moral. Dalam menghadapi tantangan zaman, katekis harus terus berinovasi dan beradaptasi agar dapat memenuhi kebutuhan spiritual umat dengan cara yang relevan dan efekti
C. Tantangan Hidup Modern Masa Kini yang Sekularis, Kapitalis, dan Individualis
Perubahan teknologi dan kebudayaan yang sering digambarkan sebagai revolusi teknologi (4G) dan revolusi sosial (5G) telah membawa sejumlah perubahan positif tapi juga mewariskan sejumlah ekses negatif. Sehubungan dengan kehidupan sosio religious, makalah ini menyoroti tiga factor penting yang menjadi tantangan bagi perwujudan peran katekis yakni krisis identitas masyarakat tradisional berhadapan dengan modernitas, sekularisme, dan individualism.
1. Tantangan antara identitas tradisional dan agama modern
Di tengah perkembangan modern, sekelompok manusia ingin kembali ke masa lalu sebagai protes terhadap perkembangan. Fundamentalisme dan terorisme merupakan sauatu wujud ketakutan terhadap heterogenitas dan penemuan identitas baru. Dalam kehidupan religius, fenomena melekatkan diri pada agama asli memicu ketegangan dengan praktek agama baru yang leibh modern. Beberapa studi di Flores membuktikan bahwa sebagian umat katolik masih kuat berpegang pada tradisi agama asli atau animisme dibandingkan dengan katolik sebagai agama modern yang dianutinya. Praktek hidup sehari-hari mengungkapkan relasi yang kabur bahkan tumpang tindih antara agama katolik sebagai praksis elit yang berasal dari barat dengan kehidupan harian masyarakat yang tetap menghidupi adatnya (Howell, 2016).
Selain itu moralitas kristiani yang cenderung universal seringkali belum menjadi praksis hidup para penganutnya. Dalam kehidupan sehari-hari, praksis agama yang mengajarkan kasih seringkali bertentangan dengan prinsip lokal yang cenderung menggunakan kekerasan (Haryanto & Soukotta, 2025). Fenomena praksis agama yang ambigu ini juga terjadi di sejumlah kelompok masyaraka lain seperti yang digambarkan beberapa penelitian di Toraja dan Mauritius (Veerasamy et al., 2023; Maćkowiak, 2024).
2 Sekularisme dan identitas baru agama
Salah satu tantangan utama adalah sekularisme, yang mengedepankan pemisahan antara agama dan kehidupan sehari-hari. Menurut survei yang dilakukan oleh Gallup (2021), lebih dari 50% responden di negara-negara Barat menganggap agama sebagai hal yang tidak penting dalam kehidupan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa banyak individu cenderung mengabaikan aspek spiritual dalam kehidupan mereka, menjadikan agama sebagai pilihan sekunder.
Banyak orang merasa terasing dari komunitas gereja, dan hal ini dapat mengakibatkan penurunan partisipasi dalam kegiatan keagamaan. Studi oleh Pew Research Center (2021) menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih skeptis terhadap institusi agama.
Studi Pew Research Center pada pertengahan 2010-an (dalam Twenge, 2017: 123-125) menunjukkan bahwa satu dari tiga Milenial – iGen (saat itu berusia 20 hingga 34 tahun) mengaku tidak memiliki afiliasi agama. Dalam survei terhadap mahasiswa tahun 2016, 17% orang tua mahasiswa mengakui tidak berafiliasi dengan salah satu agama, naik 5% dari data pada akhir tahun 1970-an. Namun sebaliknya afiliasi agama mahasiswa sendiri mengalami penurunan drastis karena pada tahun 2016, 31% tidak berafiliasi dengan agama apa pun.
Sebuah studi oleh Pew Research Center (2021) menunjukkan bahwa jumlah umat Katolik yang menghadiri misa mingguan di USA dan Eropa menurun sebesar 10% dalam dekade terakhir. Penurunan ini mencerminkan dampak dari perubahan sosial yang cepat dan tantangan yang dihadapi oleh umat dalam mempertahankan iman mereka.
Menurut Harari (2018: 112-113), agama sekarang cenderung menjadi identitas nasional dan menjadi pemecah belah peradaban manusia. Orang Israel mengandalkan Yahwe mereka, ortodoks Rusia membela bangsa Rusia, sementara Islam menggemakan ekonomi agama dan peradaban timur tengah. Agama dan ritusnya akan tetap penting selama manusia mengandalkan kekuatan pada kerjasama massal dan selama kerjasama massal bergantung pada keyakinan akan fiksi bersama. Benturan antara masalah global dan identitas lokal tercermin dalam krisis yang kini melanda dunia seperti rudal nulir, kehancuran ekologis, dan disrupsi teknologi hanya dapat diselesaikan dalam level global, termasuk Uni Eropa yang menjadi eksperimen multikulturalisme terbesar di dunia saat kini karena kesulitan integrasi dan isu imigrasi.
3. Individualism
Individualisme juga menjadi tantangan besar di dunia modern. Dengan meningkatnya kesadaran akan hak individu, banyak orang merasa bahwa mereka dapat menentukan jalan hidup mereka sendiri tanpa perlu bergantung pada norma-norma agama. Menurut laporan dari Institute for Social Research (2022), 60% generasi muda menganggap diri mereka sebagai “spiritual tetapi tidak religius,” yang menunjukkan bahwa mereka mencari makna dalam hidup tanpa terikat pada ajaran agama tertentu. Hal ini menciptakan kesenjangan antara nilai-nilai spiritual dan praktik keagamaan yang tradisional. Perpaduan antara sekularisme, kapitalisme, dan individualisme ini telah menciptakan lingkungan yang menantang bagi umat Katolik untuk mempertahankan iman mereka. Banyak orang merasa terasing dari komunitas gereja, dan hal ini dapat mengakibatkan penurunan partisipasi dalam kegiatan keagamaan.
Ikatan yang dibentuk melalui Internet pada akhirnya bukanlah ikatan yang mengikat. Namun, ikatan itulah yang mengganggu. Orang saling mengirim pesan teks saat makan malam keluarga, saat berlari, saat mengemudi, saat mendorong anak-anak di ayunan di taman. Manusia sekarang tidak ingin mengganggu satu sama lain, tetapi terus-menerus mengganggu satu sama lain melalui media sosial. Lebih banyak waktu dihabiskan dengan teknologi dibandingkan dengan sesama di sekitarnya. Ponsel seakan menjadi bagian dari diri seseorang, semacam ‘perlindungan’, dan ‘jaminan kenyamanan’. Manusia sekarang membela konektivitas sebagai cara untuk dekat, meskipun pada kenyataannya dia bersembunyi satu sama lain. Pada batasnya, dia akan puas dengan yang tak bernyawa (Turkle: 334).
Teknologi seperti robot telah dirancang untuk memicu reaksi emosional pada manusia. Para ahli robotika menyajikan ide ini seolah-olah sebagai prinsip dasar, bahwa seiring penuaan populasi, manusia tidak akan memiliki cukup orang untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan oleh karena itu, sebagai teman, robot sosial dipandang “lebih baik daripada tidak ada sama sekali.” Manusia tahu bahwa dia merasa hangat terhadap mesin ketika mesin tampak tertarik pada dirinya, ketika kemampuan robot menyentuh kerentanan manusia. Dalam kenyataan, teknologi robot telah memanfaatkan kekecewaan dan kerentanan emosional manusia dan telah menjadi symptom yang kian marak (Turkle: 334-335).
Twenge (2017) memaparkan bahwa generasi pertama yang menghabiskan masa remaja mereka dengan smartphone yang disebut sebagai iGen telah mengalami perubahan perilaku dan pandangan dunia yang drastis. Dampak negative yang dialami iGen ialah:
- Penurunan tingkat kebahagiaan, peningkatan depresi, dan gangguan tidur akibat pengguanaan layer dan media sosial
- Lebih lamban tumbuh menjadi dewasa (mis. Remaja 18 tahun tapi bertingkah seperti 13 tahun),
- Lonjakan gangguan mental seperti tingkat kecemasan, depresi, dan kesepian sejalan dengan meluasnya penggunaan smartphone.
- Implikasi sosial: perubahan drastic dalam cara mereka bersosialisasi, beragama, dan pandangan terhadap politik.
D. Peran Katekis di Tengah Perubahan Zaman
Katekis memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing umat dalam memahami ajaran agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perubahan zaman, peran ini menjadi semakin kompleks. Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, penting bagi katekis dan guru agama untuk memahami konteks sosial yang ada dan beradaptasi dengan cara yang inovatif. Dengan demikian, mereka dapat membantu umat untuk menemukan kembali makna dan tujuan dalam kehidupan spiritual mereka, meskipun di tengah arus modernisasi yang kuat.
Secara keseluruhan, peran katekis dalam konteks modern adalah tantangan yang kompleks, tetapi juga merupakan kesempatan untuk memperbarui dan memperdalam pemahaman spiritual dalam masyarakat yang terus berubah. Menjadi seorang katekis (pengajar iman) di era sekarang bukan lagi soal sekadar menghafal isi katekismus, melainkan soal membangun jembatan di atas jurang digital dan sekularisme. Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam ekosistem yang serba cepat, visual, dan kritis. Mereka harus mampu menjawab pertanyaan dan keraguan yang muncul akibat perkembangan zaman, serta menemukan cara untuk mengintegrasikan teknologi dalam praktik keagamaan tanpa mengorbankan esensi spiritualitas.
Dalam menghadapi sekularisme, katekis harus mampu menegaskan relevansi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka perlu menciptakan ruang dialog yang inklusif, di mana individu dapat mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan eksistensial tanpa merasa tertekan oleh dogma.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah:
- Pendidikan Iman: Katekis harus mampu menyampaikan ajaran agama dengan cara yang relevan dan mudah dipahami oleh generasi muda. Hal ini mencakup penggunaan media sosial dan teknologi digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
- Keterlibatan Komunitas: Katekis perlu membangun hubungan yang kuat dengan komunitas gereja dan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif dari jemaat dapat meningkatkan rasa memiliki dan keterikatan terhadap komunitas.
- Pendampingan Spiritual: Di tengah tantangan sekularisme, katekis berperan sebagai pendamping spiritual yang membantu individu menemukan makna dan tujuan dalam hidup mereka melalui iman.
E. Strategi Katekis di Tengah Tantangan Modern
Evangelisasi yang memikat bagi Generasi Z dan Alpha bukan lagi soal “menjual” agama sebagai sekumpulan aturan, melainkan menawarkan perjumpaan yang bermakna. Mereka tidak tertarik pada institusi yang kaku, melainkan sangat haus akan spiritualitas yang nyata dan berdampak.
Generasi Alpha dan Z sangat terikat pada estetika dan pengalaman sensorik karena mereka memang memiliki bahasa komunikasi yang berbeda. Bagi mereka, sebuah pesan tidak hanya harus benar secara konten, tetapi juga harus estetik (pleasing to the eye) dan bermakna secara pengalaman (experiential).
Berhadapan dengan kondisi Generasi Aplha dan Z yang demikian, berikut ini ditawarkan strategi bagaimana seorang katekis dapat melakukan evangelisasi yang memikat bagi kedua generasi ini dengan mengedepankan The Way of Beauty (Via Pulchritudinis atau Jalan Keindahan). Jalan Keindahan dipilih karena dipandang sesuai dengan kebutuhan dan situasi.
Sejumlah contoh penerapan Jalan Keindahan dapat diwujudkan dengan penggunakan aplikasi desain (seperti Canva atau CapCut) untuk membuat modul katekese yang terlihat seperti konten profesional, bukan sekadar fotokopi hitam-putih; Mengadakan doa Taizé dengan penataan lilin yang artistik, penggunaan dupa (insens) yang harum, dan pencahayaan yang temaram; menciptakan ruang yang membuat mereka merasakan kehadiran itu melalui indra penciuman (dupa), pendengaran (musik meditatif), dan penglihatan (cahaya lilin).
Generasi Z dan Alpha memiliki “detektor kebohongan” yang tajam terhadap ketidaktulusan. Mereka tidak mencari guru yang sempurna, melainkan saksi yang autentik. Mereka lebih tergerak oleh tindakan kasih nyata daripada khotbah teoritis. Dalam situasi demikian, para katekis mesti mencontohkan hidup yang konsisten dengan ajaran yang diwartakan serta berani mengakui bahwa hidup beriman pun punya tantangan, bukan sekadar jawaban-jawaban hitam-putih.
Konsep Via Pulchritudinis (Jalan Keindahan) sebagai strategi atau pendekatan pastoral yang mengajak umat untuk menjumpai Tuhan melalui pengalaman estetika mencakupi lima pilar utama yakni:
1) Keindahan sebagai Pintu Masuk Iman
Dalam dunia yang sering kali skeptis terhadap khotbah yang panjang, keindahan memiliki kekuatan untuk menembus hati tanpa perlawanan. Katekis tidak hanya mengajarkan “apa yang benar”, tetapi menunjukkan “apa yang indah” dari iman Katolik.
Contoh: Menggunakan karya seni, musik sakral, atau arsitektur gereja untuk menjelaskan misteri keselamatan.
2) Harmoni antara Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan
Paus Fransiskus dan pendahulunya menekankan bahwa Allah adalah Sang Keindahan itu sendiri. Tugas katekis adalah menyatukan tiga pilar utama (transendental):
- Verum (Kebenaran): Apa yang kita imani.
- Bonum (Kebaikan): Bagaimana kita bertindak.
- Pulchrum (Keindahan): Bagaimana iman itu memikat jiwa.
- Narasi dan storytelling bukan sekadar teori. Dogma yang abstrak seharusnya diwartakan dengan pendekatan naratif yang menarik. Sebagai contoh, kisah Para Kudus yang relevan dengan kehidupan orang muda – kisah orang kudus yang memiliki pergulatan manusiawi (misalnya Beato Carlo Acutis untuk milenial/Gen Z).
- Testimoni pribadi dengan membagikan bagaimana iman membantu seserorang melewati masa sulit. Bagi mereka, pengalaman nyata lebih otoritatif daripada sekadar kutipan buku teks.
- Menghadapi tantangan sekularisme yang mengedepankan logika manusia di atas segalanya, katekis tidak boleh anti-intelektual. Karena itu para katekis mesti membangun ruang bertanya (dialog): Membuka ruang diskusi bagi keraguan mereka (misalnya tentang sains vs iman, isu LGBT, atau keadilan sosial).
- Kerygma yang relevan: Menyampaikan inti Injil (Kasih Allah) sebagai solusi atas rasa kesepian dan kecemasan mental yang sering dialami generasi ini.
- Digital Presence sebagai Perpanjangan Tangan: Bagi Gen Z dan alpha, dunia digital adalah realitas primer, bukan sekadar tambahan. Di tengah kepungan konten sekuler, katekis harus mampu berbahasa lewat teknologi.Contoh-contoh digital presence:
- Kreativitas Visual: Mampu menggunakan alat bantu seperti video pendek, infografis, atau aplikasi interaktif.
- Navigasi Arus Informasi: Membantu anak muda membedakan mana kebenaran iman dan mana hoaks atau ideologi yang bertentangan dengan martabat manusia di internet.
- Mikro-Katekese: Gunakan platform seperti TikTok, Reels, atau format pendek untuk menjawab pertanyaan iman dalam 60 detik.
- Interactive Engagement: Gunakan jajak pendapat (polls), sesi tanya jawab anonim, atau kuis interaktif (seperti Kahoot atau Quizzz) dalam pengajaran.
4). Ars Celebrandi (Seni Merayakan)
Dalam tugas pastoral, liturgi adalah ekspresi tertinggi dari Via Pulchritudinis. Katekis harus membantu umat memahami bahwa setiap detail dalam ibadat – mulai dari keheningan, gerak tubuh, hingga dekorasi altar—bukan sekadar hiasan, melainkan sarana komunikasi dengan Yang Ilahi.
5). Keindahan dalam Kesaksian Hidup
Keindahan yang paling kuat dalam katekese bukanlah gambar di buku, melainkan keindahan hidup sang katekis. Hidup yang penuh kasih, sukacita, dan ketulusan adalah ikon hidup yang menarik orang lain untuk mengenal Kristus. Seperti kata Paus Benediktus XVI, Gereja tumbuh bukan karena proselitisme (paksaan), melainkan karena “daya tarik”.
Generasi alpha dan Z sangat peduli pada isu-isu dunia. Evangelisasi akan memikat jika mereka melihat Gereja terlibat aktif.
- Katekese Ekologis: Hubungkan ajaran Laudato Si dengan gaya hidup ramah lingkungan mereka.
- Aksi Nyata: mengajak mereka melakukan pelayanan sosial yang nyata. Bagi mereka, “iman tanpa perbuatan adalah mati” adalah prinsip yang dipegang teguh.
Keindahan dalam kesaksian berhubungan dengan signfikansi dan relevansi agama. Institusi agama tidak hanya menjadi Lembaga yang terlibat dalam urusan kultis melainkan aktif memperjuangkan mengatasi masalah yang dihadapi umatnya. Bia agama cenderung hanya mengatur relasi dengan yang ilahi atau hanya bergerak seputar urusan kultis dan mengabaikan perjuangan menangani masalah-masalah sosial yang tengah melanda umatnya, maka agama tersebut kehilangan fungsi konkrit. Sebagai akibatnya, agama akan mengalami insignifikansi internal dan irrelevansi eksternal atau insignifikansi sosial. Kehidupan umat beragama seakan terpisah antara urusan kultis dan dinamika sosial di lingkungan di mana mereka berada. Dan, agama yang demikian cenderung ditinggalkan dan tidak berkembang menjadi identitas kelompok (Darmaputera, 2001; Tuhri et al., 2020; Muhammad & Aslan, 2025).
F. Kesimpulan
Katekis masa kini harus menjadi Digital Missionary yang tetap berakar pada tradisi Gereja, namun memiliki sayap yang lebar untuk terbang di dunia digital. Kuncinya adalah menyajikan iman bukan sebagai beban aturan, melainkan sebagai jawaban atas pencarian makna hidup di tengah dunia yang makin bising.
Peran katekis di zaman now sangatlah krusial dalam menghadapi tantangan sekularisme dan kemajuan teknologi. Dengan pendekatan yang inovatif dan inklusif, katekis dapat membantu membangun kembali keterhubungan antara individu dan komunitas gereja. Melalui pendidikan iman yang relevan, keterlibatan aktif dalam komunitas, serta pemanfaatan teknologi, katekis dapat memainkan peran penting dalam membimbing umat menuju kehidupan spiritual yang lebih bermakna di era modern ini. Dengan langkah-langkah ini, meskipun di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, diharapkan katekis dapat terus berkontribusi secara signifikan dalam membentuk masyarakat yang beriman dan terhubung serta menghasilkan banyak buah.


