Pemberdayaan UKM Bersaudara di Kelurahan Paupire, Ende: Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Pemasaran Keripik Pare
Oleh: Baltasar Taruma Djata, SE., M.Sc1 dan Santy Permata Sari, S. AB., MM2 serta , Helenerius Ajo Leda, S. Sos., M. I. P3.
PENDAHULUAN
Pemberdayaan merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing agar dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar. Menurut (Hapsari, 2020) salah satu bentuk pemberdayaan yang ada di Indonesia adalah pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang kemudian juga berpengaruh terhadap perekonomian secara nasional.

UKM memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia, seperti yang dikatakan (Puspita Sari, 2024) Usaha Kecil Menengah (UKM) memiliki peran sentral dalam menggerakkan perekonomian suatu negara. UKM menjadi sumber utama penciptaan lapangan kerja, membantu mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Usaha Kecil Menengah (UKM) seyogyanya mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi (Afriani, 2016).
Menyadari tantangan yang dihadapi, para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Bersaudara berkomitmen untuk menjaga ketahanan ekonomi melalui aktivitas usaha mereka.
Didirikan pada tahun 2016 di Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, UKM ini berfokus pada pengolahan buah pare menjadi produk keripik pare.
Saat ini, UKM Bersaudara dikelola oleh lima orang, terdiri dari empat pekerja berpendidikan SMA dan satu sarjana. Usaha ini beroperasi di fasilitas milik sendiri, dengan produk keripik pare yang dijual seharga Rp 5.000 untuk kemasan netto 50 gram dan Rp 10.000 untuk kemasan netto 100 gram.
Sumber bahan baku utama, yaitu buah pare, dapat diperoleh dengan mudah dari pasar tradisional di Kota Ende, termasuk Pasar Wolowona, Pasar Potulando, dan Pasar Mbongawani, yang berjarak antara 1 hingga 4 kilometer dari lokasi usaha.

Harga buah segar pare bervariasi, yakni sekitar Rp 10.000 untuk 3 atau 4 buah, tergantung pada pasokan.
Meskipun buah pare kurang diminati masyarakat karena rasa pahitnya, produk keripik pare yang diolah berhasil menarik perhatian konsumen.
Namun, proses produksi keripik pare saat ini masih dilakukan secara manual dan belum efisien. Fasilitas yang digunakan, seperti tiga papan iris, tiga kuali besar, tiga sutel, dua kompor minyak tanah, satu kompor gas, empat baskom, lima pisau, tiga saringan, dan tiga gentong, tidak memadai.
Kehadiran alat pengiris dan spinner yang belum dimiliki berdampak pada kualitas dan daya saing produk. Selain itu, pemasaran produk masih terbatas pada pasar lokal.
Permasalahan Prioritas dan Solusi
- Permasalahan Prioritas
Permasalahan prioritas yang dihadapi mitra adalah:
1) Ketiadaan alat produksi yakni pengiris dan spiner.
Ketiadaan alat produksi merupakan masalah utama yang dihadapi oleh UKM
Bersaudara. Saat ini, proses produksi keripik pare dilakukan secara manual, yang mengakibatkan efisiensi yang rendah dan peningkatan waktu produksi. Tanpa peralatan yang memadai, yakni alat pengiris dan spiner, kualitas produk yang dihasilkan dapat terpengaruh. Proses pengolahan manual cenderung lebih lambat dan menghasilkan produk yang mungkin tidak konsisten dalam ukuran dan penampilan. Hal ini dapat berdampak pada daya saing produk di pasar yang lebih luas, di mana konsumen cenderung memilih produk yang memiliki kualitas dan penyajian yang lebih baik.
2) Pengemasan sederhana dan kurang
Pengemasan produk yang sederhana menjadi faktor lain yang membatasi potensi pasar UKM Bersaudara. Pengemasan yang sederhana dan kurang menarik dapat membuat produk keripik pare kurang terlihat menonjol di pasar dan tidak menarik bagi konsumen. Selain itu, pengemasan yang tidak baik dapat berdampak pada daya tahan produk, sehingga menyebabkan kerugian jika produk mudah rusak.
Menginvestasikan dalam desain dan bahan kemasan yang lebih baik dapat meningkatkan persepsi nilai produk, mendukung branding, dan memberikan informasi yang jelas kepada konsumen tentang cara konsumsi, komposisi, serta manfaat dari produk tersebut.
3) Pemasaran terbatas pada pasar lokal
Pemasaran produk yang terbatas menjadi masalah signifikan yang menghadapi UKM Bersaudara. Saat ini, pemasaran masih terfokus pada pasar lokal, sehingga potensi untuk menjangkau konsumen yang lebih luas sangat terbatas. Hal ini berarti bahwa meskipun produk berkualitas dapat menarik minat, kurangnya strategi pemasaran yang efektif membuat produk tidak dikenal oleh masyarakat yang lebih luas. Tanpa adanya upaya pemasaran yang terstruktur, seperti penggunaan media sosial, platform e-commerce, atau partisipasi dalam pameran, potensi penjualan dan pertumbuhan akan terhambat. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih agresif dan inovatif agar produk keripik pare dapat dikenal di pasar yang lebih luas.
- Solusi
Berdasarkan permasalahan prioritas tersebut di atas maka solusi yang ditawarkan
adalah:
1) Ketiadaan Alat Produksi yakni pengiris dan spiner:
Solusi yang diusulkan adalah melakukan pengadaan alat pengiris dan spinner melalui bantuan atau kolaborasi dengan lembaga terkait. Diperlukan masing-masing satu unit alat pengiris dan spinner, yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi keripik pare secara signifikan. Dengan adanya alat ini, proses produksi akan menjadi lebih efisien, sehingga mampu memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat.
2) Pengemasan Sederhana dan kurang menarik:
Solusi yang diusulkan adalah memberikan pelatihan desain kemasan yang menarik untuk meningkatkan daya tarik produk keripik pare. Dengan pelatihan ini, diharapkan para pelaku UKM dapat menciptakan kemasan yang lebih menarik dan inovatif, dengan variasi ukuran netto 50 gram dan 100 gram. Indikator keberhasilan dari program ini akan terlihat dari meningkatnya jumlah kemasan yang dirancang dengan baik, serta bertambahnya penjualan produk keripik pare, tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga di pasar yang lebih luas. Dengan demikian, desain kemasan yang menarik akan berkontribusi pada peningkatan daya saing dan popularitas produk di kalangan konsumen.
3) Pemasaran Terbatas:
Solusinya adalah mengembangkan strategi pemasaran yang mencakup penggunaan media sosial dan kerja sama dengan distributor lokal untuk memperluas jangkauan pemasaran. Indikatornya adalah bertambah atau meluasnya jangkauan pemasaran produk keripik pare.
METODE
Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat terhadap pelaku UKM Bersaudara adalah melewati tahapan-tahapn sebagai berikut:
a. Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial (Sekarningrum et al., 2020). Sosialisasi diartikan sebagai suatu proses belajar berinteraksi dengan orang lain tentang cara bertindak, berpikir dan merasakan, dan hal itu penting untuk menghasilkan partisipasi sosial yang efektif (Sekarningrum et al., 2020). Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman anggota pelaku UKM Bersaudara tentang pentingnya inovasi dalam produksi dan pemasaran, serta menjelaskan tujuan dan manfaat program kepada seluruh stakeholder.
Dalam kegiatan sosialisasi ini melibatkan semua dosen tim pengbadian dan 2 (dua) orang mahasiswa tim pengabdian, sedangkan mitra terlibat sebagai peserta kegiatan sosialisasi program pengabdian.C.
b. Pelatihan
Pelatihan adalah tanggungjawab yang dilakukan secara bersama-sama antara karyawan dengan organisasi, dimana karyawan mempunyai kewajiban untuk merancang dan mengikuti pelatihan, yang mana semua itu untuk mengembangkan kemampuannya sehingga terbuka lebar jalur karier yang lebih baik bagi karyawan ke depan (Subroto, 2018).
Pelatihan adalah sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawab dengan semakin baik, sesuai dengan standar (Elizar & Tanjung, 2018).
Pelatihan yang direncanakan untuk pelaku UKM Bersaudara mencakup:
a) Teknik pengolahan keripik yang efisien.
b) Penggunaan alat pengiris dan spiner.
c) Desain kemasan yang menarik dan sesuai standar.
Dalam kegiatan pelatihan ini melibatkan semua dosen tim pengbadian dan pembantu teknis pelatihan penggunaan mesin pengiris dan spiner.
c. Penerapan Teknologi
Penerapan merujuk pada tindakan atau proses mengimplementasikan pemanfaat teknologi tepat guna.
Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan,kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan (Rahmiyati, 2016).
Penerapan teknologi dilakukan secara bertahap dengan memperkenalkan peralatan
modern yang mampu meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas keripik pare.
Adapun peralatan teknologi yang akan diterapkan adalah penggunaan alat pengiris dan spiner. Tim yang teribat dalam tahap kegiatan ini adalah tim dosen dan tenaga pembantu teknis.
d. Pendampingan dan Evaluasi
Pendamping adalah orang yang berperan membantu dan mencari jalan terhadap berbagai permasalahan dengan cara memfasilitasinya (Latifah & Mulyana, 2017). Sedangkan evaluasi merupakan suatu unit kegiatan yang memiliki tujuan menghimpun keterangan/data tentang realisasi dari implementasi kebijakan, yang berkelanjutan pada suatu organisasi yang melibatkan beberapa kelompok individu dalam pembuatan keputusan (Novalinda et al., 2020).
Dalam kegiatan pengabdian ini, pendampingan dilakukan selama pelaksanaan program untuk memastikan setiap anggota pelaku UKM Bersaudara dapat mengikuti dan menerapkan pelatihan dengan baik. Sedangkan evaluasi dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan dan efektivitas program. Dalam kegiatan pendampingan dan evaluasi ini melibatkan semua dosen tim pengbadian dan 2 (dua) orang mahasiswa tim pengabdian.
e. Keberlanjutan Program
Keberlanjutan akan diupayakan dengan membentuk kelompok usaha yang dapat berkolaborasi dalam produksi dan pemasaran, serta melibatkan mitra kerja dalam merumuskan rencana evaluasi tahunan untuk mengukur kemajuan dan efektivitas program. Dalam tahap keberlanjutan program ini melibatkan semua dosen tim pengbadian.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam rangka memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Flores melaksanakan kegiatan sosialisasi sekaligus serah terima peralatan produksi kepada UKM Bersaudara.
Acara ini bukan sekadar prosesi penyerahan bantuan, melainkan bagian dari strategi pendampingan yang dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas dan kapasitas usaha kecil menengah yang menjadi salah satu pilar utama perekonomian lokal.
Peralatan produksi yang diserahkan diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif bagi UKM Bersaudara dalam meningkatkan efisiensi proses, memperbanyak hasil produksi, serta menjamin konsistensi mutu produk.
Pemberian bantuan peralatan ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar transfer pengetahunan. Universitas Flores melalui LPPM menempatkannya sebagai wujud nyata tanggung jawab akademik dan sosial dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Sebagaimana diketahui, Tri Dharma mencakup tiga dimensi utama yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks kegiatan ini, aspek pengabdian kepada masyarakat menjadi titik tekan utama, di mana universitas berupaya untuk hadir langsung di tengah komunitas lokal dan berkontribusi dalam menjawab kebutuhan yang nyata. Dengan demikian, kegiatan ini sekaligus membangun sinergi antara dunia akademik dan masyarakat, agar hasil ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar dapat memberikan dampak positif.
UKM Bersaudara, sebagai mitra binaan, dipilih karena memiliki potensi besar dalam mengembangkan produk olahan pangan berbasis kearifan lokal. Produk utama UKM Bersaudara berupa keripik pare bukan hanya sekadar makanan ringan, tetapi juga memiliki nilai tambah dari sisi potensi pasar yang cukup luas.
Melalui intervensi berupa peralatan produksi modern, diharapkan UKM ini mampu meningkatkan daya saing, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sehingga ke depan dapat menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga regional bahkan nasional. Berikut ini adalah foto aktivitas kegiatan yang telah dilakukan.
Kegiatan sosialisasi dan serah terima ini juga menjadi ajang untuk memperkuat kolaborasi antara universitas dan masyarakat. Tujuan utamanya bukan hanya memberikan peralatan, melainkan juga membekali UKM Bersaudara dengan keterampilan praktis dan wawasan baru melalui rangkaian pelatihan yang disiapkan secara terstruktur.
Fokus pelatihan diarahkan pada dua aspek penting, yaitu peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan strategi pemasaran. Dengan peningkatan kapasitas produksi, UKM dapat memenuhi permintaan pasar yang lebih besar, sementara penguatan pemasaran memastikan produk tidak hanya dihasilkan dengan baik, tetapi juga sampai kepada konsumen dengan cara yang tepat.
Dalam kegiatan pelatihan, metode partisipatif yang digunakan sehingga anggota UKM Bersaudara dapat belajar secara langsung sekaligus mempraktikkan pengetahuan baru yang diperoleh. Pelatih yang berkompeten mendampingi mereka mulai dari tahap paling awal, yaitu aplikasi alat pengiris pare sampai tahap penyaringan minyak. Kehadiran alat ini mempermudah proses pemotongan bahan baku, sehingga hasil irisan lebih seragam, rapi, dan efisien dibandingkan dengan metode manual.
Seragamnya ukuran irisan pare ini juga berpengaruh pada konsistensi rasa dan tekstur keripik yang dihasilkan.
Tahap berikutnya adalah peracikan adonan. Pada bagian ini, pelatih memberikan penekanan pada pentingnya keseimbangan komposisi bahan agar menghasilkan cita rasa khas yang konsisten. UKM Bersaudara tidak hanya diperkenalkan pada formula yang tepat, tetapi juga diajak untuk memahami bagaimana variasi bahan dapat memengaruhi rasa akhir, sehingga mereka memiliki kreativitas untuk melakukan inovasi produk di masa mendatang.
Proses penggorengan menjadi tahap berikutnya yang tidak kalah penting. Pelatih menekankan teknik menggoreng yang tepat, mulai dari pengaturan suhu minyak, waktu penggorengan, hingga jumlah bahan yang dimasukkan ke dalam wajan. Tujuannya adalah agar keripik pare tetap renyah, tidak gosong, dan tidak terlalu berminyak. Melalui penguasaan teknik ini, kualitas produk dapat terjaga sekaligus memenuhi standar kebersihan pangan yang lebih baik.
Setelah proses penggorengan selesai, dilakukan penyaringan minyak. Langkah ini kerap dianggap sepele, namun sejatinya sangat berpengaruh terhadap kualitas produk. Keripik yang bebas dari sisa minyak berlebih tidak hanya lebih sehat, tetapi juga memiliki daya simpan lebih lama serta tampilan yang lebih menarik.
Anggota UKM Bersaudara diajarkan menggunakan alat sederhana yang efektif untuk memastikan hasil produksi bersih dan siap dipasarkan.
Selain pelatihan teknis produksi, kegiatan ini juga memberikan bekal mengenai strategi pemasaran. UKM Bersaudara didorong untuk tidak hanya mengandalkan pasar tradisional, tetapi juga mulai memanfaatkan platform digital sebagai media promosi. Pemahaman tentang kemasan yang menarik, penentuan harga yang kompetitif, serta pentingnya menjaga branding menjadi materi tambahan yang diberikan. Dengan cara ini, produk keripik pare dapat memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus lebih dikenal luas oleh konsumen.
Dampak yang diharapkan dari keseluruhan kegiatan ini adalah terciptanya UKM yang lebih mandiri, profesional, dan mampu berkembang berkelanjutan. Dukungan dari Universitas Flores tidak hanya berhenti pada tahap serah terima peralatan, tetapi juga akan dilanjutkan dengan pemantauan dan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa UKM Bersaudara benar-benar mendapatkan manfaat maksimal dari program ini. Kolaborasi semacam ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi dengan mitra UKM lainnya di wilayah sekitar.
Dengan demikian, kegiatan sosialisasi dan serah terima peralatan produksi dari LPPM Universitas Flores ini dapat dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekonomi lokal berbasis masyarakat. Peralatan yang diberikan, keterampilan yang ditransfer, serta strategi pemasaran yang dikenalkan diharapkan mampu membawa UKM Bersaudara pada tingkat perkembangan yang lebih tinggi. Pada akhirnya, program ini tidak hanya bermanfaat bagi UKM itu sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan perekonomian daerah secara keseluruhan.
Sebagaimana dikatakan Rektor Universitas Flores Dr. Willybrodus Lanamana bahwa Uniflor berharap dapat terus menjadi kampus yang hadir dan berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. https://rri.co.id/daerah/1563727/uniflor-dorong-penelitian-berdampak-bagi-masyarakat.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Kegiatan sosialisasi dan serah terima peralatan produksi dari LPPM Universitas Flores kepada UKM Bersaudara merupakan langkah strategis dalam mendukung peningkatan kapasitas produksi serta kualitas produk olahan pangan berbasis lokal, khususnya keripik pare. Melalui pendampingan yang meliputi pelatihan teknis penggunaan peralatan, peracikan adonan, teknik penggorengan, penyaringan minyak, hingga strategi pemasaran, UKM Bersaudara dibekali keterampilan yang dapat menunjang pengembangan usaha mereka secara berkelanjutan.
Program ini tidak hanya menjadi bukti komitmen Universitas Flores dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya aspek pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat perekonomian lokal melalui pemberdayaan UKM.
Saran
- Bagi UKM Bersaudara, diharapkan dapat memanfaatkan peralatan dan pengetahuan yang telah diberikan secara optimal, menjaga konsistensi kualitas produk, serta terus melakukan inovasi agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
- Bagi Universitas Flores, pendampingan hendak dilakukan secara berkala sehingga perkembangan UKM dapat terpantau dan mendapatkan solusi atas kendala yang muncul atau dihadapi UKM Bersasudara.
- Bagi pemerintah daerah maupun lembaga terkait, program semacam ini perlu mendapat dukungan lebih luas, baik dalam bentuk fasilitasi akses permodalan, bantuan pemasaran, maupun kebijakan afirmatif bagi penguatan UKM lokal.
- Bagi masyarakat umum, diharapkan semakin mengapresiasi produk lokal dengan meningkatkan minat konsumsi terhadap hasil olahan UKM, sehingga pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat dapat lebih berkelanjutan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Dengan penuh rasa hormat dan syukur, kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi, serah terima peralatan produksi, serta pendampingan kepada UKM Bersaudara.
- Teristimewa kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang telah memberikan dukungan dana hibah sehingga kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dapat terlaksana dengan baik dan memberi manfaat nyata bagi mitra.
- Yayasan Perguruan Tinggi Flores dan Universitas Flores, yang telah memfasilitasi tim PKM dalam menjalankan seluruh rangkaian kegiatan, serta memberikan dukungan penuh sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
- Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Flores, atas koordinasi, pendampingan, dan bimbingan teknis yang berkesinambungan kepada tim PKM sehingga kegiatan dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuan.
- Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Flores, yang telah memberikan izin dan dukungan penuh kepada mahasiswanya untuk berpartisipasi aktif dalam tim PKM, sehingga mereka dapat memperoleh pengalaman berharga dalam mengaplikasikan ilmu di lapangan.
- Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat St. Ursula Ende, yang telah berkenan mengizinkan Bapak Helenerius Ajo Leda, S.Sos., M.I.P untuk berkolaborasi bersama tim PKM Universitas Flores, sehingga kegiatan ini semakin kaya akan pengetahuan, pengalaman, dan kolaborasi lintas institusi.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, namun telah berkontribusi dengan caranya masing-masing dalam mendukung keberhasilan program ini. Semoga kerja sama dan sinergi yang terjalin dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
DAFTAR RUJUKAN
Afriani, F. (2016). Peluang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam Ekonomi Indonesia. Ekonomica Sharia, 1(2), 13–32. https://ejournal.stebisigm.ac.id/index.php/esha/article/view/81
Elizar, E., & Tanjung, H. (2018). Pengaruh Pelatihan, Kompetensi, Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Pegawai. Maneggio: Jurnal Ilmiah Magister Manajemen, 1(1), 46–58. https://doi.org/10.30596/maneggio.v1i1.2239
Hapsari, P. P. (2020). Pengaruh UMKM terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Selatan. Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan), 3(1), 103–108. https://doi.org/10.33395/juripol.v3i1.10491
Latifah, D., & Mulyana, N. (2017). Peran Pendamping Bagi Orang Dengan Hiv/Aids (Odha). Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(3), 306–311. https://doi.org/10.24198/jppm.v2i3.13543
Novalinda, R., Ambiyar, A., & Rizal, F. (2020). Pendekatan Evaluasi Program Tyler: Goal-Oriented. Edukasi: Jurnal Pendidikan, 18(1), 137. https://doi.org/10.31571/edukasi.v18i1.1644
Puspita Sari, S. (2024). Pengembangan UKM Dalam Ekonomi Berbasis Islam – SME Development in an Islamic Based Economy. Inovasi Ekonomi Dan Bisnis :, 06(1), 25–34. https://journalpedia.com/1/index.php/ieb
Rahmiyati, N. (2016). Model Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna di Kota Mojokerto. Jmm17, 2(02). https://doi.org/10.30996/jmm17.v2i02.506
Lady Badin. Editor: Desy Natalia 04 Jun 2025. Uniflor Dorong Penelitian Berdampak Bagi Masyarakat. https://rri.co.id/daerah/1563727/uniflor-dorong-penelitian-berdampak-bagi-masyarakat
Sekarningrum, B., Sugandi, Y. S., & Yunita, D. (2020). Sosialisasi dan Edukasi Kangpisman (Kurangi, Pisahkan dan Manfaatkan Sampah). Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 73. https://doi.org/10.24198/kumawula.v3i1.25244
Subroto, S. (2018). Pengaruh Pelatihan Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Tegal Shipyard Utama. Jurnal Ekonomi Dan Kewirausahaan, 12(1), 18. file:///C:/Users/USER/Downloads/1544-Article Text-4154-1-10-20181219 (10).pdf



