Religi

Ingatlah Kebahagiaan Sejati Bukan Harta atau Kuasa, Melainkan Kerendahan Hati dan Syukur

Renungan, Minggu 1 Februari 2026 Oleh, : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Semoga Anda hari ini dalam keadaan sehat, damai dan bahagia. Namun, damai dan bahagia yang kita harapkan, bukan yang sifatnya sementara atau semu atau sesaat, melain damai dan bahagia sejati, sambil jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan Sang Pemilik Kehidupan. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa IV.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 5: 1 – 12a, yakni ucapan bahagia. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus tidak mencari yang sempurna, melainkan mereka yang lelah, hancur, dan haus akan pengharapan.

Kata pertama-Nya adalah: Berbahagialah
Delapan kali Ia mengulanginya, maka delapan pintu menuju hidup yang baru: Pertama Miskin rohani, diberi Kerajaan Surga.

Kedua_ Berdukacita, menerima penghiburan. Ketiga, Lemah lembut, mewarisi bumi. Keempat, Lapar dan haus akan kebenaran, dipuaskan Kelima,Murah HATI, menerima kemurahan Keenam, Suci hati, melihat Allah. Ketujuh,Pembawa damai, disebut sebagai anak-anak Allah. Kedelapan,Dianiaya karena kebenaran, memiliki Kerajaan Surga.

Sabda bahagia ini, membalik cara pandang dunia. Bukan harta, kuasa, atau kesenangan sesaat atau sementara atau semu, yang membawa bahagia, melainkan kerendahan HATI, air mata yang tulus, kerinduan akan Allah, dan keberanian membawa damai.

Ingatlah, bahwa kebahagiaan sejati lahir dari HATI yang berdamai dengan Tuhan dan sesama, serta dari rasa syukur yang mengubah cara pandang: dalam kekurangan kita melihat KASIH karunia, dalam kepasrahan kita menemukan kekuatan, dan dalam pengampunan kita mengalami kemerdekaan. Maka, berbahagialah.

Bukan karena segalanya baik, tetapi karena di dalam Dia: air mata menjadi tawa, kerinduan dipuaskan, dan Hati yang haus damai akan minum dari sumber hidup yang kekal.

Pesan Untuk Kita:

Sabda bahagia bukan sekadar janji, melainkan undangan. Maka, mari kita membacanya kembali perlahan, dan biarkan setiap kata menuntun kita menemukan kebahagiaan sejati, bahagia yang dimulai di saat ini, dan digenapi dalam kemuliaan-Nya.

Akhirnya, kejarlah bukan kebahagiaan itu sendiri, tetapi kejarlah Dia yang adalah sumber kebahagiaan, yakni Tuhan. Di dalam Dia, semua “berbahagia” itu menemukan makna dan penggenapannya. Semoga!!!

Pertanyaan refleksi

  1. Dari delapan sabda bahagia, manakah yang paling menyentuh keadaan hidup saya saat ini, dan mengapa?
  2. Bagaimana saya dapat membawa damai dan syukur dalam situasi sehari-hari, meski dunia sering menekankan harta, kuasa, atau kesenangan sesaat?
  3. Apakah saya sungguh percaya bahwa kebahagiaan sejati dimulai dari HATI yang berdamai dengan Tuhan dan bagaimana langkah kecil saya hari ini bisa menjadi bagian dari jalan itu.?

Selamat berefleksi dan Selamat berhari Minggu.

Doa Singkat

Tuhan Yesus,
Ajarlah kami melihat kebahagiaan sejati bukan dalam harta atau kuasa, melainkan dalam HATI yang rendah, penuh syukur, dan membawa damai. Kiranya setiap air mata Engkau ubah menjadi penghiburan, setiap kerinduan Engkau puaskan, dan setiap langkah kami menjadi saluran KASIH-Mu. Amin.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp

Adblock Detected

Nonaktifkan Ad Blocker untuk melanjutkan