Penerapan Pembelajaran Deep Learning di SMPK Frateran Maumere Oleh Frater Monfort

MAUMERE,GlobalFlores.com – Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif, dengan menekankan keterlibatan aktif guru dalam setiap tahapan kegiatan. Metode ini dirancang untuk memastikan bahwa transfer pengetahuan dan keterampilan dapat berlangsung optimal sekaligus memberikan kesempatan bagi guru untuk mempraktikkan secara langsung berbagai strategi implementasi Kurikulum Nasional dan pendekatan Deep Learning.
Rektor Unika Widya Karya Malang, Fr, Klemens Mere, SE,MPd,MM,MH,MAP,M.AK,MP atau yang akrab disapa Frater Monfort,mengatakan hal itu pada Kegiatan Work Shop Peningkatan Kompetensi Guru di SMPK Frateran Maumere, Selasa (16/12/2025).
Berikut metode pelaksanaan kegiatan secara sistematis.
- Analisis Kebutuhan (Needs Assessment)
Tahap awal dilakukan untuk memetakan masalah dan kebutuhan guru SMPK Frater Maumere terkait implementasi Kurikulum Nasional dan penerapan pembelajaran Deep Learning.
Langkah-langkahnya meliputi:
a. Wawancara awal dengan kepala sekolah dan koordinator kurikulum.
b. Observasi singkat terhadap praktik pembelajaran yang sedang berlangsung.
c. Kuesioner diagnostik kepada guru untuk mengidentifikasi pemahaman tentang Kurikulum Nasional, strategi pembelajaran, dan integrasi teknologi.
Hasil analisis kebutuhan digunakan sebagai dasar penyusunan materi dan metode Bimtek.
- Perencanaan Program (Program Planning)
Tahap ini fokus pada penyusunan rencana kegiatan secara komprehensif:
Penentuan materi pelatihan, meliputi:
a. konsep Kurikulum Nasional,
b. penyusunan perangkat ajar (ATP, modul ajar),
c. strategi pembelajaran aktif,
d. konsep dan implementasi Deep Learning,
e. asesmen formatif dan diagnostik.
Penyusunan jadwal pelaksanaan, durasi pelatihan, dan pembagian sesi.
• Penentuan narasumber/fasilitator dari bidang pendidikan dan pembelajaran inovatif.
• Menyusun instrumen evaluasi dan monitoring kegiatan. - Pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek)
Pelaksanaan Bimtek dilakukan melalui beberapa pendekatan berikut:
a. Pemberian Materi (Workshop/Pelatihan Kelas)
Metode ceramah interaktif, presentasi, dan diskusi digunakan untuk menyampaikan: pemahaman Kurikulum Nasional, prinsip pembelajaran berpusat pada peserta didik, konsep Deep Learning dalam praktik pembelajaran, integrasi teknologi pembelajaran.
b. Praktik Penyusunan Perangkat Ajar
Guru difasilitasi untuk: menyusun alur tujuan pembelajaran (ATP), menyusun modul ajar sesuai Kurikulum Nasional, merancang aktivitas pembelajaran Deep Learning, merancang asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif.
Kegiatan dilakukan melalui metode workshop, studi kasus, dan latihan terstruktur.
c. Microteaching berbasis Deep Learning
Guru melakukan simulasi pembelajaran (microteaching) untuk menerapkan strategi
Deep Learning.
Fasilitator memberikan: umpan balik langsung, perbaikan strategi mengajar,
refleksi bersama setelah microteaching.
d. Diskusi Kelompok Terarah (FGD)
FGD dilakukan untuk menggali pengalaman guru, kendala lapangan, serta menemukan solusi implementatif terkait: penerapan Kurikulum Nasional, pemilihan model pembelajaran, integrasi media digital dalam pembelajaran. - Pendampingan Implementasi (Mentoring)
Untuk memastikan keberlanjutan program: Guru didampingi langsung pada saat menerapkan perangkat ajar di kelas melalui coaching and mentoring. Fasilitator melakukan observasi singkat terhadap praktik pembelajaran. Guru dan fasilitator melakukan refleksi bersama untuk mengidentifikasi kekuatan dan area perbaikan. - Evaluasi Kegiatan
Evaluasi dilakukan pada dua level:
Evaluasi Proses, Menilai keterlibatan peserta dan efektivitas kegiatan melalui: lembar kehadiran, observasi partisipasi, umpan balik peserta mengenai materi dan fasilitator.
Evaluasi Hasil, Menilai peningkatan kompetensi guru melalui: pre-test dan post-test, kualitas perangkat ajar yang dihasilkan, kemampuan menerapkan Deep Learning melalui microteaching.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Bimbingan Teknis Kurikulum Nasional dan Penerapan Deep Learning di SMPK Frater Maumere menghasilkan beberapa capaian yang signifikan. Hasil tersebut terbagi ke dalam beberapa aspek utama:
Peningkatan Pemahaman Guru terhadap Kurikulum Nasional
Berdasarkan pre-test yang diberikan sebelum kegiatan dimulai, diketahui bahwa tingkat pemahaman guru terhadap konsep Kurikulum Nasional masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Sebagian besar guru belum memahami secara komprehensif alur tujuan pembelajaran (ATP), capaian pembelajaran (CP), diferensiasi pembelajaran, serta asesmen diagnostik dan formatif.
Setelah mengikuti sesi pelatihan, terjadi peningkatan rata-rata nilai post-test sebesar 45 persen dibandingkan pre-test. Guru menunjukkan pemahaman yang lebih baik terkait:
a. struktur dan prinsip Kurikulum Nasional,
b. penyusunan ATP dan modul ajar,
c. asesmen yang berorientasi pada proses belajar,
d. integrasi nilai karakter dalam pembelajaran.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa Bimtek efektif dalam memberikan pemahaman konseptual dan teknis mengenai implementasi kurikulum. Temuan ini sejalan dengan pernyataan Darling-Hammond et al. (2017) bahwa pelatihan guru yang terstruktur dapat meningkatkan kompetensi pedagogis secara signifikan.
Peningkatan Keterampilan Guru dalam Menyusun Perangkat Ajar
Selama sesi workshop, guru dilatih untuk menyusun perangkat ajar yang berkualitas. Hasil analisis terhadap produk perangkat ajar menunjukkan bahwa:
a. 80% guru mampu menyusun ATP dengan baik,
b. 75% dapat menyusun modul ajar lengkap,
c. 85% mampu merancang asesmen formatif yang relevan.
Sebelumnya, sebagian besar guru mengalami kesulitan merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur. Setelah pelatihan, perangkat ajar yang dihasilkan telah memenuhi prinsip pembelajaran berpusat pada siswa dan mencerminkan esensi Kurikulum Nasional (Kemdikbudristek, 2022).
Peningkatan Kemampuan Guru Menerapkan Pendekatan Deep Learning
Pendekatan Deep Learning merupakan komponen penting dalam kegiatan ini. Melalui sesi microteaching, guru mempraktikkan strategi pembelajaran mendalam seperti:
a. problem-based learning,
b. inquiry learning,
c. refleksi terstruktur,
d. analisis konsep,
e. kegiatan kolaboratif berbasis proyek.
Hasil observasi menunjukkan bahwa setelah sesi Bimtek: Guru mampu merancang aktivitas pembelajaran yang mendorong pemikiran tingkat tinggi (HOTS). Guru memfasilitasi proses berpikir analitis dan aplikasi konsep pada konteks nyata. Interaksi dua arah antara guru dan peserta didik meningkat secara signifikan.
Kompetensi ini sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 dan selaras dengan teori Biggs & Tang (2011) yang menekankan bahwa pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa aktif mengonstruksi pengetahuan melalui proses refleksi dan pemahaman mendalam.
Peningkatan Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran
Selama pelatihan, guru diperkenalkan dengan penggunaan media digital untuk mendukung Deep Learning, seperti: aplikasi presentasi interaktif (Canva, Google Slides), platform asesmen digital (Quizizz, Google Forms), sumber belajar digital (video pembelajaran, simulasi interaktif).
Setelah pelatihan, guru menunjukkan peningkatan kemampuan dalam: membuat media pembelajaran digital, melakukan asesmen online, memadukan materi digital dalam modul ajar, menggunakan teknologi untuk memfasilitasi kolaborasi siswa.
Temuan ini sejalan dengan laporan OECD (2019) bahwa literasi teknologi guru berpengaruh kuat terhadap kualitas pembelajaran modern.
Penguatan Komunitas Belajar Guru (Professional Learning Community)
Salah satu dampak penting kegiatan adalah terbentuknya Komunitas Belajar Guru di SMPK Frater Maumere. Guru sepakat untuk melakukan: pertemuan rutin satu kali sebulan, berbagi praktik baik pembelajaran, saling melakukan coaching, mengembangkan perangkat ajar secara kolaboratif.
Pembentukan komunitas ini menjadi strategi keberlanjutan yang sangat penting, sejalan dengan temuan OECD (2020) bahwa kolaborasi antar guru meningkatkan kinerja pengajaran secara signifikan.
Pembahasan
Efektivitas Bimtek dalam Meningkatkan Pemahaman Kurikulum
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa metode Bimtek dengan pendekatan workshop, diskusi, dan praktik langsung sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan guru tentang Kurikulum Nasional. Guru merasa bahwa materi Bimtek membantu mereka memahami kurikulum tidak hanya secara teoretis, tetapi juga implementatif. Hal ini mendukung penelitian Sani (2020) yang menegaskan bahwa intervensi pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran berstandar proses pendidikan.
Penerapan Deep Learning Mendorong Transformasi Pembelajaran
Setelah pelatihan, guru mulai menerapkan pendekatan Deep Learning dengan lebih terstruktur. Aktivitas pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi memberi ruang bagi siswa untuk melakukan eksplorasi, diskusi, dan refleksi. Pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna.
Perubahan ini menandai transformasi penting dalam praktik pembelajaran, sejalan dengan teori Biggs & Tang (2011) yang menyatakan bahwa konsep constructive alignment dapat dicapai ketika guru mengintegrasikan tujuan pembelajaran, aktivitas pembelajaran, dan asesmen secara selaras.
Pendampingan dan Microteaching sebagai Strategi Penguatan Kompetensi Guru
Microteaching terbukti menjadi metode yang efektif untuk meningkatkan praktik pembelajaran guru. Guru yang awalnya ragu dalam mencoba metode Deep Learning menjadi lebih percaya diri setelah menerima umpan balik dari fasilitator. Strategi coaching ini memperkuat kompetensi guru secara berkelanjutan, sesuai dengan konsep pengembangan profesional yang direkomendasikan oleh Darling-Hammond et al. (2017).
Peran Teknologi dalam Mendukung Pembelajaran Berbasis Deep Learning
Integrasi teknologi menjadi salah satu temuan penting dalam kegiatan ini. Guru mulai memanfaatkan teknologi tidak hanya untuk presentasi materi, tetapi juga untuk asesmen digital, analisis data belajar siswa, dan penyediaan sumber belajar. Hal ini membuktikan bahwa teknologi dapat memperkuat proses pembelajaran mendalam dan meningkatkan keterlibatan siswa, sesuai dengan hasil penelitian OECD (2019).
Keberlanjutan Program melalui Komunitas Belajar Guru
Pembentukan Komunitas Belajar Guru menjadi faktor penentu keberlanjutan program. Dengan adanya komunitas ini, guru dapat terus meningkatkan kompetensi secara mandiri dan kolektif. Keberlanjutan ini sangat penting mengingat tantangan implementasi kurikulum dan inovasi pembelajaran bersifat terus berkembang.
KESIMPULAN
Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Bimbingan Teknis Kurikulum Nasional dan penerapan pendekatan Deep Learning di SMPK Frater Maumere memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran. Beberapa poin penting yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut:
- Pemahaman guru terhadap Kurikulum Nasional meningkat secara substansial.
Guru memperoleh pemahaman komprehensif mengenai capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran (ATP), modul ajar, diferensiasi pembelajaran, serta asesmen formatif. Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan nilai post-test, kemampuan analisis, dan ketepatan penyusunan perangkat ajar. - Keterampilan guru dalam merancang perangkat ajar mengalami peningkatan nyata.
Sebagian besar guru mampu menghasilkan perangkat ajar yang sesuai standar Kurikulum Nasional, berorientasi pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, serta mengakomodasi kebutuhan belajar siswa. - Penerapan pembelajaran berbasis Deep Learning mulai terintegrasi dalam praktik mengajar guru.
Melalui kegiatan microteaching dan pendampingan, guru mampu menerapkan strategi pembelajaran yang menekankan pemikiran tingkat tinggi (HOTS), analisis konsep, pemecahan masalah, serta refleksi mendalam. Penerapan ini menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual. - Guru menunjukkan peningkatan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran.
Penggunaan platform digital untuk media ajar, asesmen, dan kolaborasi siswa menjadi lebih optimal sehingga mendukung terciptanya proses pembelajaran modern dan interaktif. - Terbentuknya Komunitas Belajar Guru (KBG/PLC) menjadi indikator keberlanjutan program.
Komunitas ini memungkinkan guru terus mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan melalui berbagi praktik baik, refleksi bersama, dan kolaborasi pengembangan perangkat ajar.
Secara keseluruhan, kegiatan ini telah mencapai tujuan utamanya yaitu mengoptimalkan praktik pembelajaran guru SMPK Frater Maumere melalui penguatan kurikulum dan pengembangan pendekatan pembelajaran mendalam. Program ini berhasil meningkatkan kualitas pedagogik guru dan memperkuat ekosistem pembelajaran di sekolah.
SARAN
Berdasarkan proses pelaksanaan dan temuan di lapangan, beberapa saran dapat diajukan untuk keberlanjutan dan pengembangan program selanjutnya: - Keberlanjutan Pelatihan Guru
Sekolah disarankan untuk menyelenggarakan pelatihan lanjutan secara berkala terkait: pengembangan perangkat ajar tingkat lanjut, penerapan model-model pembelajaran inovatif, penguatan asesmen berbasis kompetensi. - Optimalisasi Komunitas Belajar Guru
Komunitas Belajar Guru yang telah terbentuk perlu diperkuat melalui: jadwal pertemuan rutin, pengembangan forum diskusi internal untuk berbagi praktik baik, kolaborasi perencanaan pembelajaran lintas mata pelajaran. - Integrasi Teknologi Berkelanjutan
Guru perlu terus mengembangkan literasi digital dengan: mengikuti pelatihan pembuatan media pembelajaran digital, memanfaatkan aplikasi kelas virtual, mengembangkan asesmen digital yang variatif. - Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan
Sekolah perlu melakukan monitoring secara periodik terhadap: kualitas perangkat ajar yang digunakan, keterlaksanaan pembelajaran berbasis Deep Learning, respons dan hasil belajar siswa. Evaluasi berkelanjutan ini penting untuk menilai efektivitas implementasi Kurikulum Nasional secara nyata di kelas. - Dukungan Kebijakan Internal Sekolah
Pihak manajemen sekolah perlu memberikan: alokasi waktu guru untuk perencanaan pembelajaran, fasilitas teknologi pendukung pembelajaran, ruang untuk inovasi pembelajaran dalam kelas. - Perluasan Program ke Sekolah Lain
Model program pengabdian ini dapat direplikasi ke sekolah lain di wilayah Maumere atau Flores karena terbukti efektif meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru. (rom)



