Perayaan Misa Kristus Raja Semesta Alam di Paroki Ndora,Nagekeo,Penuh Dengan Nuansa Budaya
Oleh, Antonius Dua, Mahasiswa STIPAR Ende
MBAY,GlobalFlores.com – Perayaan Misa Kristus Raja Semesta Alam pada Minggu, 23 November 2025 di Paroki St. Petrus Martir Ndora,Kavikepan Mbay,Kabupaten Nagekeo, NTT, penuh dengan nuansa budaya.
Seperti disaksikan perayaan yang dimulai pukul 09.00 Wita diawali dengan perarakan Sakramen Mahakudus dari Lingkungan Malaea menuju Lapangan Sepak Bola Lena, lokasi pentahtaan Sakramen dan tempat perayaan Ekaristi.
Acara diawali dengan sambutan adat Bhea Sa, disertai iringan gong, gendang, serta tarian tradisional. Kehadiran unsur budaya lokal ini menuai apresiasi dari umat karena menggambarkan keanggunan tradisi yang menyatu dengan kekhidmatan iman.

Doa adat Buju Ngaji, yang dibawakan dalam bahasa daerah, turut memperkuat suasana religius dan rasa syukur umat.
Setelah prosesi doa dan penyembahan, umat diarahkan untuk berjalan bersama menuju lokasi misa sambil berdoa.
Setibanya di tenda utama, Sakramen kembali disambut secara adat sebelum ditahtakan di depan altar. Nuansa penghormatan yang mendalam tampak dari kekompakan umat serta partisipasi lintas stasi.
Tahun ini, panitia mengangkat tema misa dari motto episkopal Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD: “Peliharalah Kasih Persaudaraan”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah sebagai “Ma’e Co’o Ka’e, Ma’e Bhoko Azi.”
Perayaan dipimpin oleh Rd. Efraim Pea, didampingi pastor paroki dan vikaris.
Dalam homilinya, Rd. Efraim menekankan kedalaman makna tema yang mengajak umat untuk menjaga kedamaian dan persatuan.
“Ma’e Co’o Ka’e berarti kakak tetaplah kakak, Ia yang lebih dahulu membuka jalan dan tahu arah. Ma’e Bhoko Azi berarti sebagai kakak, ia memberikan teladan serta menghargai yang lebih muda,” ujarnya.
“Jika diterjemahkan dalam bahasa kekinian, tema ini seperti pepatah berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Semua kita sama di mata Tuhan,”katanya.
Misa berjalan lancar dan khidmat seperti koor yang ditata dengan baik dan musik pengiring yang indah membawa umat masuk ke dalam suasana doa yang tenang.
Setelah misa, umat dijamu dengan santap siang bersama sebagai simbol sebuah tradisi yang meneguhkan persaudaraan.
Antonius Diwa, salah satu pengiring musik, mengungkapkan kesan mendalam terhadap perayaan tahun ini.
“Meskipun misa dilakukan di tempat terbuka, partisipasi umat luar biasa besar. Tema Ma’e Co’o Ka’e, Ma’e Bhoko Azi sangat menyentuh dan memotivasi saya untuk tetap rendah hati. Dari kerendahan hati tumbuh persaudaraan yang sejati,” tuturnya.
Antusiasme umat yang mencapai lebih dari seribu orang memberi kebanggaan tersendiri bagi panitia.
Yohanes Sua, salah seorang panitia, menyatakan rasa syukur atas keberhasilan acara.
“Dengan kehadiran umat yang begitu banyak, kami merasa pelayanan yang kami berikan diterima dan dihargai,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Stasi St. Maria Lena, Yohanes Nanga, menegaskan bahwa pepatah “Ma’e Co’o Ka’e, Ma’e Bhoko Azi” bukan sekadar slogan, tetapi pedoman hidup.
“Pepatah ini mengajak kita menumbuhkan cinta kasih yang membuahkan persaudaraan, perdamaian, dan kesatuan,” katanya.
Di akhir acara, panitia menyampaikan harapan agar semangat kebersamaan yang tampak dalam perayaan ini tidak berhenti di hari raya Kristus Raja saja.
“Semoga keterlibatan umat terus hidup dalam ziarah kehidupan, bukan hanya hari ini,” ungkap Yohanes Sua,salah seorang panitia.
Perayaan Misa Kristus Raja Semesta Alam di Stasi Lena tahun ini tidak hanya menjadi momentum iman, tetapi juga perayaan budaya, persaudaraan, dan kesatuan umat.
Yohanes mengatakan dengan mengusung nilai-nilai kekeluargaan yang kuat, perayaan ini menjadi pengingat bahwa kasih persaudaraan harus terus dipelihara dalam hidup sehari-hari.
Semangat “Ma’e Co’o Ka’e, Ma’e Bhoko Azi” diharapkan tetap menyala dan menjadi fondasi bagi komunitas umat dalam melangkah bersama di tengah dunia yang terus berubah,ujar Yohanes.



