Perarakan Arca Bunda Maria di Roworeke Ende: Simbol Toleransi dan Persaudaraan Lintas Agama

Oleh,Magdalena Timbu,Mahasiswa STIPAR Ende
ENDE,GlobalFlores.com – Pada Rabu, 30 April 2025 Umat Katolik di Paroki Santo Martinus Roworeke, Kevikepan Ende, Keuskupan Agung Ende, Kabupaten Ende, Nusa tenggara Timur, menggelar prosesi penerimaan Arca Bunda Maria. Acara ini merupakan bagian dari tradisi tahunan dalam rangka menyambut Bulan Rosario yang berlangsung selama Bulan Mei tiap tahun.
Seperti disaksikan perarakan dimulai dengan penyerahan Arca Bunda Maria dari Paroki Roworeke ke Stasi Wolowona disambut dengan tarian adat Ende Lio dan Bhea oleh Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Wolowona.
Dalam kegiatan itu selain Umat Katolik juga umat beragama lain turut mengambil bagian dan mengikuti kegiatan penyabutan Arca Bunda Maria.
Saat diarak kembali ke Lingkugan Watubawu disambut dengan mariah oleh umat di Lingkungan Watubawu dengan tarian adat Bali dan pengalungan oleh Remaja Masjid. Hal ini menandakan tingginya nilai-nilai toleransi antar umat beragama.
Saat diarak ke Lingkungan Watutoro,arca Bunda Maria disambut dengan Tarian Adat Ende-Lio yang dibawakan oleh siswa SD.
Pelaksanaan kegiatan di tempat ini tidak hanya melibatkan umat Katolik tetapi juga umat Islam setempat.
Sebagai bentuk penghormatan dan persaudaraan lintas agama umat Islam turut serta dalam prosesi dengan mengalungkan kain selendang khas Ende kepada arca bunda Maria.
Inisiatif ini muncul dari umat Islam sendiri yang mencerminkan semangat toleransi yang telah terjalin lama di Kota Pancasila Ende.
Ecntisius Pano seorang tokoh umat Katolik setempat menyatakan bahwa perarakan ini menunjukkan bagaimana umat beragama di Ende mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh umat Islam di kampung Lokoboko yang ikut serta dalam Doa Rosario Lintas Paroki dan Komunitas Umat Basis.
Acara penerimaan arca Bunda Maria di Lokoboko ini bukan hanya sebuah prosesi keagamaan tetapi juga simbol nyata dari kerukunan dan persatuan umat beragama di wilayah tersebut.
Melalui perayaan ini umat Katolik dan umat Islam bersama-sama mewujudkan nilai toleransi dan persaudaraan yang menjadi ciri khas masyarakat Kabupaten Ende, ujar Ecntisius Pano.



