Refleksi Kematian Tidak Wajar Seorang Anak di Kabupaten Ngada, Sebuah Tragedi Mahalnya Harga Ketidakpedulian

Oleh:Maria Hedwin Pati,Mahasiswa STIPAR Ende
Seorang anak yang dilahirkan kedunia yang seharusnya memiliki rasa percaya diri akan tumbuh dan kembangnya menjadi pribadi anak yang penuh dengan kesenangan, bermain, mengekslorasi diri bersama teman-temanya dan menjadikan dunia anak begitu aman bukan bergulat sendirian dan merasa terbebani akan hidup yang ia jalani sampai membuatnya melihat kematian sebagai jalan keluar.
Peristiwa anak berusia 10 tahun yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak wajar serta sepucuk surat yang ditinggalkan untuk seorang ibu yang telah melahirkannya merupakan tragedi yang mengguncang nurani kita semua.
Kejadian seperti ini tidak bisa dipahami sebagai tindakan individual semata. Ini mencerminkan kegagalan bersama dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan sistem sosial yang belum cukup peka terhadap kesehatan mental anak.
Kadangkala anak dipaksakan untuk bekerja layaknya orang dewasa, teriakan mereka tidak kita dengar serta mengabaikan tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi mereka. Anak tidak hanya membutuhkan makanan, tetapi juga rasa aman, didengar dan diyakinkan bahwa hidupnya berharga. Setiap kali kita gagal memastikan anak-anak hidup dengan martabat, itu berarti kita sedang menabung tragedi berikutnya.
Dari peristiwa ini saya dapat belajar bahwa kita membutuhkan keluarga yang didukung secara ekonomi dan psikologis, sekolah yang humanis dan responsif, lingkungan yang peduli, serta negara yang benar-benar hadir melindungi yang paling rentan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi mengapa seorang anak bisa sampai pada titik putus asa, melainkan mengapa kita membiarkannya sendirian sampai sejauh itu dan rasa bersalah akan terus menjadi milik kita bersama.


